Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #3

HAL-HAL YANG TIDAK PERNAH DIBICARAKAN SAMPAI SELESAI

BAB 3

HAL-HAL YANG TIDAK PERNAH DIBICARAKAN SAMPAI SELESAI



Rumah itu pada mulanya tidak pernah terasa asing bagi Arga. Ia tumbuh di sana sebagai anak bungsu, yang paling lama tinggal, yang paling terbiasa dengan suara-suara kecil yang tidak pernah benar-benar hilang. Kakak-kakaknya sudah lama pergi, membawa hidup mereka masing-masing ke kota yang berbeda, dan perlahan menjadikan rumah itu bukan lagi tempat pulang, melainkan sekadar alamat yang sesekali diingat.

Sejak ayahnya meninggal, beberapa tahun sebelum ia menikah, rumah itu berubah tanpa pernah benar-benar mengakuinya. Tidak ada yang membicarakan perubahan itu secara langsung, tetapi segala sesuatu berjalan dengan cara yang lebih sunyi. Ibunya tetap menjalani hari seperti biasa, memasak, membersihkan, duduk di ruang depan, seolah-olah tidak ada yang berkurang, padahal justru di situlah kekosongan itu terasa paling jelas.

Ketika Lintang datang sebagai bagian dari rumah itu, tidak ada penolakan yang tampak. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Ia disambut, diajak makan, kadang ditanya hal-hal sederhana yang tidak pernah berkembang menjadi percakapan yang lebih dalam. Namun justru karena tidak ada yang benar-benar bermasalah di permukaan, sesuatu yang lebih halus mulai terbentuk di bawahnya.

Lintang berusaha menyesuaikan diri dengan cara yang ia pahami. Ia masuk ke dapur, membantu, mencoba mengenali ritme yang sudah lebih dulu ada sebelum ia datang. Tapi selalu ada perasaan bahwa apa yang ia lakukan tidak pernah benar-benar tepat. Bukan salah, hanya tidak sepenuhnya sesuai. Dan perbedaan kecil itu cukup untuk membuatnya merasa seperti tamu yang terlalu lama tinggal.

Arga melihat itu, tetapi tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang mendesak. Ia terbiasa dengan keheningan di rumah itu, terbiasa dengan hal-hal yang tidak diucapkan. Baginya, semuanya masih dalam batas yang bisa diterima. Ia percaya bahwa waktu akan memperbaiki apa yang belum terasa pas, tanpa perlu terlalu banyak campur tangan.

Lintang tidak pernah sepenuhnya percaya pada hal itu.

Ketika Ryan lahir, rumah itu sempat terasa berubah. Ada suara baru yang mengisi ruang-ruang yang sebelumnya terlalu tenang. Ibunya Arga lebih sering mendekat, melihat Ryan dengan perhatian yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Untuk beberapa waktu, Lintang merasa bahwa mungkin inilah cara mereka menjadi keluarga yang utuh.

Namun perubahan itu tidak bertahan.

Ada hal-hal kecil yang perlahan tidak bisa lagi diabaikan. Gerakan Ryan tidak seperti bayi lain. Tubuhnya tidak selalu merespons seperti yang diharapkan. Pada awalnya, semua dibungkus dalam kemungkinan yang menenangkan, seolah-olah waktu bisa memperbaiki segalanya.

Arga memilih percaya pada kemungkinan itu. Ia tidak ingin terlalu cepat memberi nama pada sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.

Lintang mencoba mengikuti, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang menolak untuk sepenuhnya tenang. Ia melihat lebih dekat, merasakan lebih langsung, dan tanpa perlu penjelasan panjang, ia tahu bahwa hidup mereka sedang bergerak ke arah yang tidak mereka rencanakan.

Ketika mereka akhirnya duduk di hadapan dokter dan mendengar penjelasan yang disampaikan dengan suara yang terlalu datar untuk sesuatu yang begitu menentukan, kata itu datang dan menetap tanpa memberi ruang untuk ditolak. Cerebral Palsy.

Di perjalanan pulang, tidak ada percakapan yang benar-benar terjadi. Arga menyetir dengan pandangan lurus ke depan, seolah jika ia menoleh sedikit saja, sesuatu di dalam dirinya akan runtuh. Lintang memegang Ryan lebih erat dari biasanya, bukan karena takut menjatuhkannya, tetapi karena tidak tahu lagi apa yang bisa ia pegang selain itu.

Sejak hari itu, hidup tidak berubah secara tiba-tiba, melainkan bergeser sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak lagi sama.

Lihat selengkapnya