Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #5

KOTA YANG TERLALU RAMAI UNTUK MENYEMBUNYIKAN APA PUN

BAB 5

KOTA YANG TERLALU RAMAI UNTUK MENYEMBUNYIKAN APA PUN

 

 

Malang siang itu tidak benar-benar panas, tapi cukup untuk membuat udara terasa padat. Kendaraan bergerak tanpa henti, suara klakson sesekali pecah seperti sesuatu yang tidak sabar menunggu giliran. Arga duduk di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan yang tidak pernah benar-benar sepi, meskipun orang-orang yang datang ke sana jarang benar-benar saling mengenal.

Di depannya, secangkir kopi sudah hampir habis. Ia tidak ingat sejak kapan ia mulai meminumnya. Waktu di tempat seperti itu sering kehilangan bentuknya, berubah menjadi sesuatu yang hanya ditandai oleh datang dan perginya orang.

Di meja sebelah, dua orang berbicara tentang proyek, tentang angka, tentang sesuatu yang terdengar jelas tujuannya. Arga mendengar sebagian, lalu kehilangan minat untuk benar-benar memahami. Ada saat-saat ketika dunia terasa berjalan dengan logika yang tidak lagi bisa ia ikuti, meskipun ia pernah merasa menjadi bagian darinya.

Ponselnya tergeletak di meja. Beberapa notifikasi muncul, sebagian dari grup diskusi yang masih aktif mengundangnya ke berbagai forum, sebagian lagi dari orang-orang yang hanya muncul ketika ada sesuatu yang ingin dibicarakan secara publik.

Namanya masih disebut.

Kadang diminta berbicara, kadang diminta menulis opini, kadang sekadar diminta hadir untuk memberi kesan bahwa ia masih bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Arga membaca satu pesan, lalu menutupnya.

Undangan diskusi tentang situasi negara. Judulnya panjang, penuh istilah yang terdengar penting. Ia tahu bagaimana acara seperti itu berjalan. Orang-orang datang dengan gagasan, berbicara dengan keyakinan, saling mengangguk, lalu pulang tanpa benar-benar mengubah apa pun.

Ia pernah percaya pada semua itu.

Dulu, di Jakarta, ia sering berada di ruang-ruang seperti itu. Duduk bersama orang-orang yang ia hormati, mendengar, berbicara, merasa bahwa setiap kalimat yang diucapkan memiliki arah. Ia ingat bagaimana mereka membicarakan keadilan, sistem, masa depan, seolah-olah semuanya bisa dipahami jika cukup lama dipikirkan.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Bukan karena topiknya berubah, tapi karena jarak antara apa yang dibicarakan dan apa yang dijalani terasa semakin jelas.

Lihat selengkapnya