Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #6

HALAMAN YANG TIDAK PERNAH SELESAI

BAB 6

HALAMAN YANG TIDAK PERNAH SELESAI

 

 

Malam di Batu tidak pernah benar-benar jatuh sekaligus. Ia datang pelan, seperti sesuatu yang sudah lama menunggu waktunya, merayap dari sudut-sudut yang tidak terlihat sampai akhirnya seluruh rumah tenggelam dalam cahaya yang redup dan udara yang semakin dingin. Arga duduk di meja yang sama sejak pagi, seolah waktu tidak benar-benar bergerak, hanya berganti bentuk tanpa meninggalkan jejak yang jelas.

Laptop di depannya masih terbuka. Halaman itu tetap kosong, atau setidaknya tampak kosong, meskipun sebenarnya ia sudah berkali-kali mencoba mengisinya dengan sesuatu yang tidak pernah bertahan lebih dari beberapa detik. Kata-kata muncul, lalu hilang, seperti tidak menemukan alasan yang cukup untuk tinggal.

Dari dalam kamar, tidak terdengar batuk malam itu. Ibunya mungkin sudah tidur, atau hanya berbaring dalam diam seperti kebanyakan malam yang ia jalani belakangan ini. Ketika suara itu tidak ada, rumah justru terasa lebih luas, seolah setiap ruang di dalamnya kembali ke ukuran aslinya yang terlalu besar untuk dihuni tanpa banyak kata.

Arga membuka salah satu folder lama, tanpa benar-benar tahu apa yang ingin ia cari. Naskah-naskah yang pernah ia tulis tersimpan di sana, tersusun rapi dengan judul-judul yang dulu terasa penting, seolah masing-masing menyimpan sesuatu yang belum sempat ia buktikan kepada dunia. Ia memilih satu secara acak, membukanya, lalu membaca beberapa paragraf pertama dengan perhatian yang setengah sadar.

Kalimat-kalimat itu tidak buruk. Bahkan, jika ia jujur pada dirinya sendiri, masih ada sesuatu yang terasa utuh di dalamnya. Tapi keutuhan itu seperti milik seseorang yang pernah ia kenal, bukan lagi miliknya sekarang. Ia mengenali cara berpikirnya, mengenali ritme kalimatnya, tetapi tidak lagi sepenuhnya berada di dalamnya.

Ia berpindah ke naskah lain, seolah berharap menemukan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang bisa membuatnya berhenti lebih lama. Namun yang ia temukan justru sebaliknya. Ada pola yang berulang, bukan dalam arti yang sederhana, melainkan dalam cara ia mendekati sesuatu. Seolah sejak awal ia selalu bergerak dalam lingkaran yang sama, hanya dengan bentuk yang sedikit berubah.

Arga menutup file itu, lalu membuka yang lain, kemudian menutupnya lagi sebelum sempat membaca sampai selesai. Ada kelelahan yang muncul bukan karena banyaknya hal yang ia lakukan, tetapi karena sesuatu yang terasa tidak pernah benar-benar bergerak maju.

Ia kembali ke halaman kosong.

Tangannya berada di atas keyboard, tidak bergerak, tetapi juga tidak sepenuhnya diam. Ada dorongan kecil untuk menulis sesuatu, apa pun itu, hanya untuk memastikan bahwa ia masih bisa melakukannya. Ia mulai mengetik, pelan, seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat kembali sesuatu yang pernah sangat ia kuasai.

Lihat selengkapnya