Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #7

PERCAKAPAN YANG TIDAK PERNAH SAMPAI

BAB 7

PERCAKAPAN YANG TIDAK PERNAH SAMPAI

 

 

Pagi di Batu terasa lebih terang dari biasanya, meskipun Arga tidak benar-benar yakin apakah itu karena cuaca atau karena ia bangun dengan keadaan yang sedikit berbeda dari malam sebelumnya. Udara tetap dingin, tetapi tidak lagi menusuk seperti hari-hari sebelumnya. Ada semacam kejernihan yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan, seperti sesuatu yang perlahan mengendap setelah lama berputar tanpa arah.

Ia tidak langsung membuka laptop.

Meja itu tetap di tempatnya, kursi itu masih sama, tetapi untuk beberapa saat ia memilih duduk tanpa melakukan apa-apa. Di luar, suara kendaraan mulai terdengar, lebih jauh dibanding di kota-kota besar, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa hari sudah berjalan dan ia tidak benar-benar berada di luar waktu.

Ponselnya ada di atas meja.

Ia melihatnya, tidak menyentuhnya, lalu kembali melihat ke luar jendela. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu mulai terasa memiliki makna yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya. Seolah ada jeda yang selama ini tidak pernah ia izinkan, dan sekarang muncul tanpa diminta.

Akhirnya ia mengambil ponsel itu.

Pesan dari Lintang sudah ada sejak beberapa waktu lalu. Ia sudah membacanya, tetapi belum membalas. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, melainkan karena ia ingin menunda sesuatu yang selalu terasa sama setiap kali terjadi.

Ia membuka percakapan itu lagi.

Lintang menulis tentang jadwal terapi Ryan, tentang kemungkinan perubahan metode, tentang biaya yang mungkin bertambah. Tidak ada keluhan. Tidak ada kalimat yang meminta sesuatu secara langsung. Semuanya disampaikan dengan cara yang membuatnya terdengar seperti informasi biasa, meskipun Arga tahu tidak ada yang benar-benar biasa di dalamnya.

Ia mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi dengan kalimat yang lebih pendek. Beberapa detik setelah ia mengirim, Lintang membalas. Cepat, seperti seseorang yang memang sedang menunggu, meskipun tidak pernah mengatakan bahwa ia menunggu.

Percakapan itu berjalan, tetapi tidak benar-benar bergerak ke mana-mana. Mereka berbicara tentang hal-hal yang perlu dibicarakan, tentang waktu, tentang jadwal, tentang sesuatu yang bisa diatur. Tidak ada satu pun yang menyentuh apa yang sebenarnya ingin mereka katakan.

Arga membaca setiap pesan dengan perhatian yang tidak ia tunjukkan dalam kata-katanya. Ia mencoba menemukan sesuatu di antara kalimat-kalimat itu, sesuatu yang mungkin bisa ia jadikan pintu untuk masuk ke percakapan yang lebih jujur. Tapi setiap kali ia hampir menulis sesuatu yang berbeda, tangannya berhenti.

Ada ketakutan yang tidak sepenuhnya ia sadari. Bahwa jika ia mengatakan terlalu banyak, semuanya justru akan menjadi lebih jelas dari yang ia siap hadapi.

Di sisi lain, Lintang juga tidak pernah membuka ruang itu. Ia tetap berada pada hal-hal yang bisa diukur, yang bisa diselesaikan, yang tidak memerlukan penjelasan panjang tentang perasaan.

Mereka berdua berada di percakapan yang sama, tetapi tidak benar-benar berada di tempat yang sama.

Setelah beberapa pesan, percakapan itu berhenti dengan sendirinya. Tidak ada penutup. Tidak ada kalimat yang menandai bahwa semuanya sudah selesai. Hanya jeda yang kembali muncul, seperti sebelumnya.

Arga meletakkan ponselnya.

Ia menyadari sesuatu yang selama ini selalu ia rasakan, tetapi tidak pernah benar-benar ia pikirkan dengan jelas. Bahwa yang membuat jarak di antara mereka bukan hanya keadaan, bukan hanya keputusan untuk tinggal terpisah, tetapi cara mereka berbicara yang tidak pernah benar-benar sampai ke inti dari apa yang mereka rasakan.

Ia berdiri, berjalan ke dapur, lalu kembali lagi tanpa benar-benar melakukan apa-apa.

Lihat selengkapnya