Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #8

NAMA YANG TIDAK PERNAH DITULIS

BAB 8

NAMA YANG TIDAK PERNAH DITULIS

 

 

Ada pekerjaan yang tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan tanpa mengurangi sebagian dari kebenarannya, dan Arga sudah terlalu lama berada di dalamnya untuk mencoba mencari istilah yang tepat. Ia menyebutnya menulis karena tidak ada kata lain yang lebih dekat, tetapi dalam praktiknya, yang ia lakukan jauh lebih sunyi dari sekadar menyusun kalimat.

Ia menulis untuk orang lain.

Bukan sekadar membantu merapikan ide atau memperbaiki bahasa, melainkan masuk ke dalam cara berpikir seseorang, meminjam nadanya, menyusun ulang keraguannya, lalu perlahan membangun sesuatu yang pada akhirnya akan berdiri dengan nama yang bukan miliknya. Pada awalnya, ia tidak melihat itu sebagai sesuatu yang rumit. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, ada pekerjaan yang datang, dan ada kemampuan yang ia miliki. Semuanya bertemu dalam satu titik yang terasa cukup masuk akal untuk dijalani tanpa terlalu banyak pertanyaan.

Ia tidak pernah benar-benar mengingat kapan semua itu mulai menjadi kebiasaan. Mungkin dari satu pekerjaan kecil yang datang tanpa rencana, mungkin dari seseorang yang membutuhkan bantuannya dan percaya bahwa ia bisa menyelesaikannya dengan baik. Dari situ, hal-hal lain mengikuti, tidak selalu dalam bentuk yang sama, tetapi cukup sering untuk membuatnya menjadi bagian dari hidup yang tidak lagi ia pikirkan sebagai sesuatu yang sementara.

Di laptopnya, ada beberapa folder yang tidak pernah ia buka di depan siapa pun. Di dalamnya tersimpan naskah-naskah yang sudah selesai, yang sudah terbit, yang sudah beredar di toko buku dan dibaca oleh orang-orang yang tidak pernah ia temui. Ia mengenali semuanya tanpa perlu melihat nama di sampulnya. Ia tahu bagaimana satu kalimat berpindah ke kalimat berikutnya, tahu di bagian mana ia sempat ragu sebelum akhirnya memilih satu bentuk yang paling mendekati apa yang ia rasakan saat itu.

Kadang ia melihat buku-buku itu secara langsung. Di toko buku kecil, di rak yang tidak terlalu tinggi, atau di tangan seseorang yang membacanya sambil berdiri. Ada momen ketika ia berhenti cukup lama, membuka halaman di bagian tengah, membaca beberapa baris yang terasa begitu akrab, lalu menutupnya kembali tanpa meninggalkan tanda apa pun bahwa ia pernah ada di sana.

Suatu kali, ia berdiri di samping seseorang yang sedang memegang salah satu buku itu. Perempuan itu membacanya dengan perhatian yang tidak dibuat-buat, lalu berkata kepada temannya bahwa tulisan di dalamnya terasa jujur, terasa dekat, seperti ditulis oleh seseorang yang benar-benar mengerti apa yang ia bicarakan. Arga mendengar itu tanpa bergerak, tanpa keinginan untuk mengoreksi atau mengklaim sesuatu yang sejak awal memang tidak pernah menjadi miliknya secara terbuka.

Lihat selengkapnya