BAB 9
HAL-HAL YANG TIDAK BISA DITUNDA LAGI
Pagi itu datang tanpa sesuatu yang bisa disebut sebagai awal yang baru, tetapi Arga bangun dengan perasaan yang tidak sepenuhnya sama seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada perubahan yang jelas, tidak ada keputusan yang tiba-tiba menjadi terang, hanya semacam kesadaran yang tertinggal dari malam sebelumnya, yang tidak hilang begitu saja ketika ia membuka mata.
Ia tidak langsung duduk di depan laptop.
Rumah masih sunyi, seperti biasanya. Dari dalam kamar, suara ibunya belum terdengar, dan untuk beberapa saat ia berdiri di ruang depan tanpa tujuan yang benar-benar ia pahami. Cahaya pagi masuk melalui jendela dengan cara yang lebih tegas dari biasanya, memperlihatkan debu-debu halus yang bergerak di udara, sesuatu yang selalu ada tetapi jarang ia perhatikan.
Ponselnya bergetar. Kali ini ia tidak menunda. Nama yang muncul bukan Lintang.
Rizal.
Arga mengenalnya cukup lama, meskipun tidak pernah benar-benar dekat dalam arti yang sederhana. Mereka pernah berada dalam beberapa lingkaran yang sama, berbicara tentang hal-hal yang mirip, bergerak di ruang yang tidak terlalu berbeda. Belakangan, Rizal lebih sering muncul dengan proyek-proyek yang jelas bentuknya, sesuatu yang bisa dijelaskan dalam angka dan hasil.
Arga mengangkat telepon itu.
“Mas, lagi di Batu?” suara Rizal terdengar cepat, seperti seseorang yang sudah tahu apa yang ingin ia katakan sebelum lawan bicaranya menjawab.
“Iya.”
“Aku lagi ada kerjaan. Buku lagi. Tapi beda dari yang biasa.”
Arga tidak langsung menjawab. Ia sudah cukup mengenal pola seperti ini untuk tahu ke mana arah pembicaraan akan berjalan.
“Beda gimana?”
“Lebih besar. Targetnya jelas. Orangnya juga sudah punya nama. Tinggal... ya, kamu tahu lah, dirapikan, dibentuk.”
Arga berjalan ke arah jendela, membuka sedikit, membiarkan udara dingin masuk.
“Deadline?” tanyanya.
“Tiga bulan. Tapi kalau bisa lebih cepat, lebih bagus.”
Ada jeda kecil di antara mereka. Tidak panjang, tapi cukup untuk membawa sesuatu yang tidak diucapkan ke permukaan.
“Masih ngerjain yang beginian, kan?” tanya Rizal lagi.
Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi Damar tahu tidak sepenuhnya seperti itu.