BAB 10
ORANG-ORANG YANG BERJALAN LEBIH CEPAT
Pesan itu datang di pagi hari, singkat, tanpa pengantar, seperti kebanyakan komunikasi yang sudah terlalu lama tidak terjadi untuk membutuhkan basa-basi.
“Ga, nanti malam kumpul ya. Lama enggak ketemu.”
Nama pengirimnya cukup untuk membuat Arga tidak langsung menggeser layar. Ia membaca sekali, lalu membiarkannya tetap terbuka, seolah kalimat itu masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami, padahal sebenarnya ia sudah tahu persis ke mana arah hari itu akan berjalan jika ia memutuskan untuk datang.
Ia mengenal lingkaran itu dengan baik, bukan sebagai sesuatu yang jauh, melainkan sebagai bagian dari hidupnya sendiri di waktu yang berbeda. Mereka pernah duduk bersama hampir setiap minggu, berbicara panjang tentang hal-hal yang sekarang terdengar terlalu besar untuk dibicarakan tanpa jarak. Negara, perubahan, keadilan, masa depan, semua kata itu dulu mereka ucapkan dengan keyakinan yang terasa wajar, tanpa perlu dibuktikan saat itu juga.
Tidak ada dari mereka yang benar-benar tahu akan menjadi apa, tetapi mereka semua percaya bahwa mereka tidak akan berhenti di tempat.
Dan pada akhirnya, sebagian besar dari mereka memang tidak berhenti.
Arga membalas singkat, tanpa menambahkan apa pun yang tidak perlu.
“Iya, aku datang.”
Sepanjang hari, ia tidak benar-benar memikirkan pertemuan itu sebagai sesuatu yang istimewa, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikannya. Ada bagian dari dirinya yang seperti bergerak mundur, membuka kembali ingatan-ingatan yang selama ini tidak ia sentuh terlalu dalam. Bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai sesuatu yang masih memiliki kaitan dengan dirinya sekarang, meskipun tidak lagi berada di tempat yang sama.
Malam datang, dan ia berangkat tanpa terburu-buru.
Motor tuanya menyala dengan suara yang tidak sepenuhnya halus, seperti biasa. Mesin itu sudah terlalu lama menemaninya untuk menuntut lebih dari sekadar bisa berjalan. Ia melaju pelan, membiarkan angin malam mengenai wajahnya tanpa benar-benar memperhatikan jalan dengan cara yang fokus. Rute itu ia hafal, bukan karena sering ia lalui belakangan ini, tetapi karena tubuhnya masih mengingat arah yang pernah begitu akrab.
Tempatnya tidak jauh dari pusat kota, sebuah restoran yang cukup terang, cukup ramai, dengan susunan meja yang rapi dan suara percakapan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ketika ia masuk, mereka sudah ada di sana, duduk mengelilingi meja panjang, beberapa wajah langsung menoleh, beberapa yang lain masih tenggelam dalam pembicaraan sebelum akhirnya menyadari kehadirannya.
“Arga.”