Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #11

HAL-HAL YANG TIDAK BISA MENUNGGU LAGI

BAB 11

HAL-HAL YANG TIDAK BISA MENUNGGU LAGI

 

 

Perjalanan ke Jogja tidak pernah benar-benar terasa seperti pulang bagi Arga, meskipun ia tidak punya kata lain yang lebih tepat untuk menyebutnya. Jalan-jalan yang ia lewati, warung-warung kecil yang masih buka menjelang sore, lampu-lampu yang mulai menyala satu per satu, semua itu cukup akrab untuk tidak terasa asing, tetapi juga tidak lagi cukup dekat untuk membuatnya merasa berada di tempat yang bisa ia tempati tanpa jarak. Ia mengendarai motor tuanya dengan kecepatan yang tidak tergesa, membiarkan angin menyentuh wajahnya, seolah dengan cara itu ia bisa menunda apa yang sudah menunggunya di ujung perjalanan.

Ia datang kali ini bukan hanya karena ingin melihat Ryan, dan bukan pula karena ada sesuatu yang tiba-tiba berubah di dalam dirinya. Pesan-pesan Lintang dalam beberapa hari terakhir terlalu langsung untuk diabaikan. Tidak ada lagi ruang untuk percakapan yang bisa diputar menjadi sesuatu yang lebih ringan. Semua mengarah ke satu hal yang sama, dengan cara yang tidak memberi pilihan selain melihatnya sebagai kenyataan.

Ketika ia sampai di depan rumah itu, matahari sudah turun sedikit, menyisakan cahaya miring di dinding pagar yang mulai kusam. Ia mematikan mesin motor dan duduk beberapa detik, tangannya masih di setang, seperti seseorang yang belum sepenuhnya siap memindahkan dirinya dari satu keadaan ke keadaan lain. Setelah itu ia turun, membuka gerbang yang tidak dikunci, lalu berjalan ke pintu.

Ia mengetuk. Langkah terdengar dari dalam, tidak tergesa, lalu pintu dibuka. Ibu Lintang berdiri di sana.

Perempuan itu menatapnya sejenak, tanpa ekspresi yang bisa segera dibaca sebagai penerimaan atau penolakan. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan yang mencoba menutupi apa pun. Hanya pandangan yang cukup lama untuk memastikan siapa yang datang, lalu tubuhnya bergeser sedikit.

“Masuk.”

Satu kata, datar, seperti sesuatu yang diucapkan karena perlu.

“Permisi, Bu.”

Arga melangkah masuk. Ia tidak menoleh, tetapi ia tahu bahwa kehadirannya tidak pernah benar-benar dianggap sebagai sesuatu yang dinanti. Ia tidak lagi berada di posisi itu, dan mungkin memang tidak pernah benar-benar berada di sana selain dalam harapan yang dulu sempat ada.

Dari ruang tengah terdengar suara televisi kecil. Di dekat jendela, Ryan duduk di kursi rodanya, menghadap ke luar. Begitu mendengar langkah, anak itu menoleh, gerakannya pelan, lalu wajahnya berubah dengan cara yang selalu membuat Arga berhenti sejenak, seolah semua yang lain bisa ditunda.

“Papa.”

Arga mendekat, berjongkok di depannya. “Iya. Papa datang.”

Ryan mengangkat tangannya sedikit. Arga memegangnya, merasakan tekanan kecil yang tidak pernah sama dari satu waktu ke waktu lain.

“Capek?” tanya Arga.

Ryan menggeleng. “Besok terapi.”

“Papa tahu.”

“Kakiku sakit sedikit.”

Ia mengatakannya seperti sesuatu yang tidak perlu dijelaskan panjang. Arga mengangguk, meskipun ia tahu bahwa apa yang ia pahami tidak pernah benar-benar sampai ke dalam pengalaman anaknya.

Lintang keluar dari dapur membawa segelas air. Ia melihat Arga, lalu mengangguk kecil.

“Sudah sampai.”

“Iya.”

Ia meletakkan gelas di meja tanpa suara berlebih. Tidak ada yang berubah secara mencolok dari dirinya, tetapi semakin lama Arga melihatnya, semakin terasa bahwa perempuan itu telah bergerak ke tempat yang tidak lagi sama. Ia tidak menjadi keras, tidak juga menjauh dengan cara yang bisa disebut jelas. Hanya saja, seluruh sikapnya kini lebih padat, lebih terarah, seperti seseorang yang tidak lagi punya waktu untuk membiarkan hidup berjalan tanpa bentuk yang pasti.

Di belakangnya, ibunya berdiri sebentar, memperhatikan. Tatapan itu tidak tajam, tidak pula terbuka sebagai penolakan, tetapi cukup untuk membuat Arga sadar bahwa di mata perempuan itu, ia adalah sesuatu yang pernah diharapkan menjadi lain.

Dulu, ketika ia pertama kali datang, ada keyakinan yang tidak diucapkan. Bahwa laki-laki ini akan menjadi seseorang. Cara ia berbicara, cara ia berpikir, keyakinan yang ia bawa, semuanya terlihat seperti sesuatu yang bisa tumbuh menjadi bentuk yang jelas. Tidak ada janji yang dibuat, tetapi ada harapan yang dibiarkan hidup.

Sekarang, tanpa perlu diucapkan, semuanya sudah selesai.

Ibu Lintang tidak perlu mengatakan apa-apa untuk membuat itu terasa.

Lihat selengkapnya