Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #12

LANGKAH YANG PELAN

BAB 12

LANGKAH YANG PELAN

 

 

Pagi di Jogja datang tanpa tergesa, seperti selalu, dengan cahaya yang masuk perlahan melalui sela-sela jendela, tidak langsung terang, tetapi cukup untuk membangunkan sesuatu tanpa membuatnya terkejut. Arga sudah terjaga sebelum suara di dalam rumah benar-benar bergerak. Ia tidak langsung bangun, hanya membuka mata dan menatap langit-langit, mendengarkan bunyi-bunyi kecil yang mulai muncul satu per satu, air dari dapur, langkah pelan, suara kursi yang digeser.

Untuk beberapa saat, ia lupa di mana ia berada.

Lalu ingatan itu datang kembali dengan utuh.

Jogja. Rumah ini. Ryan.

Dan satu kalimat yang semalam diucapkan dengan begitu sederhana sehingga tidak memberi ruang untuk ditunda.

Ia bangun perlahan, duduk di tepi kasur, lalu mengusap wajahnya. Tidak ada rasa berat yang berlebihan, tetapi ada sesuatu yang menetap, seperti sesuatu yang tidak lagi bisa ia pindahkan ke hari lain.

Di ruang tengah, Lintang sudah bersiap. Tas terapi diletakkan di dekat pintu, botol minum, kain kecil, beberapa alat yang sudah tertata rapi. Ia tidak terlihat terburu-buru, tetapi semua gerakannya tepat, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan hal yang sama untuk masih perlu berpikir.

“Ibu sudah bangun?” tanya Arga pelan.

“Sudah,” jawab Lintang tanpa menoleh. “Di dapur.”

Arga mengangguk, lalu mendekat ke kamar Ryan.

Anak itu sudah terjaga, matanya terbuka, melihat ke arah langit-langit, seperti sedang menunggu sesuatu yang ia tahu akan terjadi hari ini.

“Papa,” katanya begitu melihat Arga.

“Iya.”

Arga mendekat, duduk di sampingnya.

“Jadi temenin aku, ya,” kata Ryan.

Arga mengangguk. “Iya.”

Tidak ada tambahan lain. Ryan tidak memastikan lagi. Seolah ia sudah tahu bahwa kali ini jawaban itu akan benar-benar terjadi.

Mereka bersiap tanpa banyak kata. Lintang membantu Ryan duduk, memasangkan sepatu dengan hati-hati, memastikan posisi tubuhnya nyaman. Damar berdiri di dekat mereka, sesekali membantu ketika diminta, tetapi lebih sering memperhatikan, mencoba memahami sesuatu yang selama ini hanya ia lihat dari jauh.

Ketika mereka keluar rumah, udara pagi masih menyimpan sisa dingin malam. Jalan belum terlalu ramai. Arga mendorong kursi roda Ryan menuju motor, lalu berhenti sebentar.

“Aku yang bawa,” katanya.

Lintang menatapnya, lalu mengangguk.

Mereka mengatur posisi dengan hati-hati. Ryan duduk di depan, di antara Arga dan setang motor, tubuhnya dijaga agar tetap stabil. Lintang duduk di belakang. Untuk beberapa detik, semuanya terasa seperti susunan yang tidak sepenuhnya aman, tetapi sudah terlalu sering dilakukan untuk dianggap asing.

Motor dinyalakan. Mereka berangkat.

Lihat selengkapnya