Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #13

SESUATU YANG TIDAK IKUT PERGI

BAB 13

SESUATU YANG TIDAK IKUT PERGI

 

 

Siang di Jogja bergerak pelan, seperti tidak ingin mengganggu apa pun yang sudah lebih dulu terjadi sejak pagi. Sepulang dari tempat terapi, mereka tidak langsung kembali ke dalam rumah. Lintang sempat berhenti sebentar di warung kecil di ujung jalan, membeli sesuatu tanpa banyak bicara, lalu kembali menyalakan motor. Ryan duduk di depan, tubuhnya sedikit condong, sesekali kepalanya jatuh pelan lalu terangkat lagi, seperti menahan lelah yang tidak ingin ia akui sepenuhnya.

Arga merasakan berat kecil itu di tubuh anaknya sepanjang perjalanan, sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami ketika hanya melihat dari jauh. Jalan yang mereka lewati tidak berubah, tetapi ada bagian dari dirinya yang merasa semua itu kini memiliki arti yang berbeda, lebih padat, lebih sulit dilewati tanpa membawa sesuatu bersamanya.

Sesampainya di rumah, semuanya kembali ke bentuk yang sudah terbiasa. Ryan dipindahkan dari motor ke kursi rodanya, lalu ke dalam, dibaringkan sebentar, diberi minum, dibersihkan, dan akhirnya dibiarkan beristirahat. Lintang bergerak dari satu hal ke hal lain tanpa banyak jeda, menyelesaikan sesuatu yang jika dilihat dari luar tampak kecil, tetapi jika dijalani setiap hari tidak pernah benar-benar ringan.

Arga duduk di ruang depan.

Ia tidak melakukan apa-apa. Tangannya hanya bertumpu di lutut, matanya sesekali mengarah ke jendela, ke halaman kecil yang tidak terlalu luas, ke pagar yang tadi ia buka. Di dalam dirinya masih ada sisa dari pagi tadi, sesuatu yang belum selesai, tetapi juga tidak bisa ia kembalikan ke bentuk sebelumnya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Rizal.

Mas, aku butuh jawaban hari ini.

Arga membaca, lalu membiarkan layar itu menyala beberapa detik sebelum akhirnya padam. Ia tidak menjawab. Bukan karena tidak tahu harus berkata apa, melainkan karena jawaban itu sekarang tidak berdiri sendiri. Ia tidak lagi bisa memisahkan satu hal dari yang lain seperti dulu.

Lintang keluar dari dapur.

“Mas balik hari ini?” tanyanya.

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Sebentar lagi.”

Lintang mengangguk. Tidak ada usaha untuk menahan. Tidak juga ada keinginan untuk mempercepat. Seperti semuanya sudah berada di tempatnya masing-masing, dan tidak ada yang perlu dipindahkan.

Arga berdiri, berjalan ke kamar Ryan. Pintu tidak sepenuhnya tertutup. Ia mendorongnya sedikit, lalu masuk tanpa suara.

Ryan sudah bangun. Matanya terbuka, tetapi tubuhnya masih diam, seperti seseorang yang belum sepenuhnya meninggalkan lelahnya.

“Papa,” katanya pelan.

“Iya.”

Arga duduk di tepi ranjang.

“Ryan capek?”

Ryan mengangguk kecil.

“Tapi tadi bisa.”

“Iya. Papa lihat.”

Ryan tersenyum sebentar, lalu diam. Ada jeda yang lebih lama dari biasanya, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tetapi tidak tahu bagaimana menyusunnya.

Lihat selengkapnya