BAB 14
SUNYI YANG TIDAK SAMA LAGI
Perjalanan dari Jogja ke Batu tidak pernah benar-benar singkat, tetapi selama ini Arga menjalaninya seperti sesuatu yang bisa dilalui tanpa banyak berpikir, seolah tubuhnya sudah hafal arah dan jarak hanya soal waktu yang akan habis dengan sendirinya. Kali ini berbeda. Lebih dari tiga ratus kilometer itu tidak lagi terasa sebagai angka, melainkan sesuatu yang menempel di setiap bagian jalan, membuat perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi seperti memasuki ruang yang tidak bisa ia lewati tanpa membawa seluruh isi kepalanya.
Ia berangkat ketika siang belum sepenuhnya condong. Jalan masih ramai, panas aspal mulai naik perlahan, dan suara kendaraan lain bercampur dengan dengung mesin motornya yang tidak pernah benar-benar halus. Di awal perjalanan, pikirannya masih dipenuhi sisa dari rumah itu, cara Ryan menatapnya sebelum ia pergi, tangan kecil yang sempat ia pegang lebih lama dari biasanya, dan kalimat sederhana yang tidak meminta jawaban rumit tetapi justru karena itu tidak bisa ia abaikan.
Semakin jauh ia meninggalkan kota, semakin terbuka jalan di depannya, dan semakin jelas pula bahwa apa yang ia tinggalkan tidak ikut tertinggal. Nama-nama kota hanya lewat sebentar di papan penunjuk arah, lalu hilang di belakang. Orang-orang di pinggir jalan menjalani hidup mereka dengan cara yang sama seperti kemarin dan mungkin juga besok membuka warung, duduk di teras, berbicara tentang hal-hal yang tidak pernah menyentuh apa yang sedang ia pikirkan.
Di sebuah warung kecil, ia berhenti. Bukan karena lapar, melainkan karena tubuhnya meminta jeda yang tidak bisa ia abaikan. Ia duduk di bangku kayu, memesan teh hangat, lalu membiarkannya mendingin lebih lama dari yang diperlukan. Percakapan di sekitarnya berjalan tanpa memperhatikan kehadirannya. Tentang harga barang, tentang hujan yang belum turun, tentang rencana sore yang sederhana. Ia mendengar tanpa benar-benar masuk. Ada jarak yang tidak bisa ia jembatani, dan untuk pertama kalinya ia tidak mencoba melakukannya.
Ia kembali melanjutkan perjalanan ketika cahaya mulai berubah. Bayangan memanjang, udara sedikit lebih dingin, tetapi tubuhnya mulai merasakan panjangnya jalan. Bahunya tegang, tangannya tidak lagi seleluasa di awal, dan pikirannya tidak lagi bergerak cepat. Ia tidak memikirkan semuanya sekaligus, hanya potongan-potongan yang datang dan pergi.
Ryan di matras.
“Papa lihat?”
Kaki kecil yang bergerak pelan.
Lintang yang tidak marah, tetapi tidak lagi memberi ruang untuk ditunda.
“Kita sudah terlalu sering hidup dari kata usahakan.”
Kalimat itu tidak datang sebagai teguran. Lebih seperti sesuatu yang sudah lama ada, tetapi baru sekarang ia dengar sepenuhnya.
Menjelang sore ia berhenti lagi, kali ini di pom bensin. Tangannya sedikit kaku ketika membuka tutup tangki. Ia berdiri di samping motor, melihat kendaraan lain datang dan pergi, lalu memandang jalan yang masih harus ia tempuh. Perjalanan belum selesai, dan untuk pertama kalinya ia tidak merasa sedang kembali.
Lebih seperti memindahkan dirinya dari satu bentuk hidup ke bentuk lain yang belum ia pahami.
Ketika malam mulai turun dan lampu-lampu kota Batu terlihat dari kejauhan, kelelahan itu datang dengan cara yang lebih utuh. Tidak hanya di tubuh, tetapi juga di dalam pikirannya yang sejak tadi tidak benar-benar berhenti. Udara berubah lebih dingin, lebih tajam, dan entah bagaimana membuat segala sesuatu terasa lebih jauh.
Ia sampai di rumah ketika malam sudah benar-benar jatuh.
Halaman rumah tampak sama seperti yang ia tinggalkan. Ia mematikan motor, tetapi tidak langsung turun. Tangannya masih di setang, seperti seseorang yang belum sepenuhnya siap mengakhiri perjalanan, bukan karena ia ingin terus berjalan, tetapi karena ia tahu bahwa apa yang menunggunya di dalam rumah itu tidak akan mengubah apa pun yang baru saja ia alami.
Ia akhirnya turun, membuka pintu, dan seperti biasa, yang pertama menyambutnya bukan suara, melainkan ruang.
Rumah itu tetap sama. Bau kayu tua, sofa yang sedikit turun di bagian tengah, meja yang penuh benda-benda kecil yang tidak pernah benar-benar dibutuhkan, foto-foto lama yang tergantung sedikit miring. Tidak ada yang berubah.
Namun ia tahu, sesuatu tidak lagi sama.
Dari dalam kamar, batuk ibunya terdengar.
“Ibu?” panggilnya.
“Ada apa?” jawab suara itu.
Arga masuk. Ibunya duduk di tepi ranjang, selimut menutupi kakinya.
“Baru sampai?”
“Iya.”