BAB 15
HAL-HAL YANG DITULIS UNTUK ORANG LAIN
Hari-hari setelah Arga kembali ke Batu tidak lagi terasa sebagai rangkaian yang bisa ia pisahkan dengan jelas, karena yang berubah bukan waktu itu sendiri, melainkan cara ia berada di dalamnya. Ia bangun, membantu ibunya sebisanya, mendengar suara batuk yang semakin akrab seperti bagian dari rumah itu sendiri, lalu duduk di depan laptop, dan sejak saat itu hari berjalan tanpa banyak tanda bahwa ia benar-benar berpindah dari satu bagian ke bagian lain. Ia tidak lagi menunggu sesuatu terjadi di luar dirinya, karena hampir seluruh hidupnya sekarang berlangsung di dalam layar yang terus ia isi dengan sesuatu yang bahkan sejak awal ia tahu tidak akan pernah menyebut namanya.
Naskah itu mulai tumbuh, bukan sebagai sesuatu yang ia ikuti, tetapi sebagai sesuatu yang ia bentuk dari dalam, dengan kesabaran yang tidak selalu ia sadari. Kerangka yang diberikan kepadanya cukup jelas untuk menjadi dasar, tetapi terlalu longgar untuk bisa berdiri tanpa disentuh lebih dalam, dan Arga, seperti kebiasaannya yang tidak pernah benar-benar bisa ia lepaskan, tidak mampu menulis sesuatu dengan setengah hati. Ia membaca ulang bagian demi bagian, menahan kalimat yang terlalu cepat selesai, menggeser alur yang terasa terlalu mudah, dan perlahan memberi napas pada sesuatu yang sebelumnya hanya berjalan sebagai rangka.
Ia tidak pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa ia melakukan itu. Bahkan kepada dirinya sendiri, ia tidak menyebutnya sebagai usaha lebih. Ia hanya merasa tidak bisa menulis dengan cara lain.
Suatu siang, ketika ia sedang memperbaiki satu bagian yang menurutnya terlalu dangkal, ponselnya bergetar. Nama Rizal muncul, dan Arga membiarkannya berdering beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
“Gimana, Ga,” suara di seberang terdengar cepat, seperti selalu. “Udah kebayang belum ini arahnya mau dibawa ke mana?”
Arga menatap layar sebentar sebelum menjawab, suaranya tidak tinggi, tidak juga lambat, hanya datar seperti ia berbicara pada dirinya sendiri. “Udah mulai kebentuk. Tapi kalau mau kuat, konfliknya harus ditahan dulu. Jangan terlalu cepat selesai.”
“Bagus, bagus. Gue juga mikir gitu. Ini harus kena. Kita kejar emosi pembaca, tapi jangan kelihatan dipaksa.”
Arga tidak langsung menjawab. Ia melihat kembali bagian yang tadi ia kerjakan, lalu berkata pelan, “Kalau dipaksa, pembaca tahu.”
Rizal tertawa kecil di ujung sana. “Makanya gue cari lo.”
Kalimat itu tidak terdengar istimewa, bahkan mungkin sudah pernah ia dengar dalam bentuk lain sebelumnya, tetapi entah mengapa kali ini tidak sepenuhnya lewat begitu saja. Arga tidak menanggapinya lebih jauh.
“Deadline masih sama?” tanyanya.
“Iya. Kita harus gerak cepat. Ini bisa jadi besar, Ga.”
Arga menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan. “Iya.”
Percakapan selesai tanpa tambahan apa pun. Ia meletakkan ponsel, lalu kembali ke tulisan itu, tetapi ada sesuatu yang tertinggal dari kalimat tadi, bukan sebagai harapan, melainkan sebagai kemungkinan yang tidak pernah benar-benar ia beri tempat sebelumnya.