BAB 16
HAL-HAL YANG TIDAK BISA DIBAGI
Pagi di Jogja datang seperti pagi-pagi sebelumnya, dengan cahaya yang mula-mula hanya menempel tipis di kisi-kisi jendela, lalu perlahan masuk dan menegaskan bentuk-bentuk di dalam rumah sedikit demi sedikit, tetapi bagi Lintang, pagi tidak pernah sungguh-sungguh terasa sebagai permulaan. Ia tidak bangun untuk memulai hari, melainkan untuk melanjutkan sesuatu yang kemarin belum selesai dan esok pun tidak akan selesai. Bahkan sebelum matanya terbuka sepenuhnya, tubuhnya sudah lebih dulu mengingat urutan yang harus dijalani, dan ingatan semacam itu tidak lagi datang sebagai pikiran, melainkan sebagai kebiasaan yang telah lama melekat pada otot, pada telapak tangan, pada punggung, pada cara ia menjejak lantai sambil menahan agar tidak mengeluarkan terlalu banyak bunyi.
Ketika ia masuk ke kamar Ryan, anak itu masih tertidur, miring sedikit ke satu sisi, dengan selimut yang bergeser tanpa ia sadari, dan untuk beberapa saat Lintang hanya berdiri di dekat ranjang, membenarkan letak selimut itu, menggeser posisi kaki Ryan perlahan supaya tidak terlalu menekan bagian yang sama, lalu memandangi wajah anaknya dalam tidur dengan perhatian yang tidak pernah benar-benar bisa ia berikan ketika Ryan bangun, karena ketika anak itu terjaga, segala sesuatu segera menuntut untuk dikerjakan.
Dari dapur terdengar suara ibunya menggeser sesuatu, lalu suara air, lalu sebuah panggilan pendek yang tidak pernah benar-benar berubah nadanya dari hari ke hari. “Sudah bangun?”
“Sudah,” jawab Lintang, tidak terlalu keras, karena rumah ini tidak terbiasa dengan suara yang dibawa lebih tinggi dari yang diperlukan.
“Air panasnya masih ada.”
“Iya.”
Ia bergerak ke dapur, menyalakan kompor lagi, menyiapkan sarapan, mencampur susu, memotong sesuatu kecil-kecil agar nanti lebih mudah dimakan, dan di sela-sela semua itu ia tahu bahwa beberapa menit lagi Ryan akan terbangun dan hari akan kembali berjalan di atas relnya yang sama. Ketika akhirnya anak itu benar-benar membuka mata, tidak ada kejutan di sana. Ryan tidak pernah bangun dengan terburu-buru seperti anak-anak lain. Ia bangun seperti seseorang yang harus lebih dulu berunding dengan tubuhnya sendiri sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam hari.
“Mama,” katanya pelan, suaranya masih tebal oleh sisa tidur.
“Iya. Bangun pelan-pelan dulu.”
Ryan mengangguk kecil, dan Lintang duduk di tepi ranjang, mengangkat tubuhnya sedikit demi sedikit sampai posisi duduknya cukup aman. Tangan-tangan semacam itu, yang bagi orang lain mungkin tampak sederhana, bagi Lintang sudah menjadi pengetahuan yang tidak lagi perlu disebut. Ia tahu bagian mana yang harus ditahan, bagian mana yang jangan ditarik terlalu cepat, kapan Ryan sedang menahan sakit dan kapan ia hanya berusaha keras. Tidak semua orang bisa membedakan keduanya, tetapi ia bisa, seperti ia bisa membedakan perubahan napas anaknya hanya dari cara bahunya bergerak.
“Kaki aku masih agak sakit,” kata Ryan, setelah beberapa saat.
Lintang memandangnya sebentar, lalu berkata, “Nanti kita pelan-pelan,” dan di dalam kalimat itu tidak ada janji bahwa hari akan menjadi lebih mudah, karena ia sudah lama berhenti menjanjikan hal-hal yang tidak bisa ia pastikan. Yang bisa ia lakukan hanya menjalani hari setahap demi setahap, dan kadang-kadang, bagi orang seperti dirinya, itulah satu-satunya bentuk harapan yang masih masuk akal.
Mereka sarapan di ruang tengah, di dekat jendela yang sedikit terbuka, membiarkan udara pagi masuk bersama suara gang yang mulai hidup. Ibunya keluar dari kamar dengan rambut yang belum seluruhnya rapi, langsung menuju dapur, lalu kembali ke ruang makan tanpa banyak bertanya. Ia melihat Ryan, melihat Lintang, kemudian duduk dengan cara yang sama seperti setiap pagi, seolah hidup memang harus dijaga dengan pengulangan agar tidak buyar.
“Jam berapa hari ini?” tanya ibunya.