Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #17

YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN

 Hari-hari di Batu terus berjalan dalam bentuk yang nyaris tidak berubah, tetapi yang tidak berubah itu justru mulai terasa asing bagi Arga, seolah rumah yang sama, meja yang sama, bahkan cahaya sore yang jatuh di lantai dengan sudut yang sama, kini menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Pekerjaan yang dibawanya dari percakapan dengan Rizal sudah tumbuh menjadi kebiasaan baru. Ia bangun, membantu ibunya sebisanya, duduk di depan laptop, membaca ulang halaman-halaman yang ia tulis malam sebelumnya, lalu masuk lagi ke dalam cerita itu dengan ketepatan yang semakin hari semakin mudah. Jika ada sesuatu yang bisa disebut sebagai keberhasilan, maka itulah bentuknya: sebuah kemudahan yang datang setelah bertahun-tahun hidup di sekitar kata-kata, kemudahan untuk menemukan ritme, membangun tensi, menghidupkan tokoh-tokoh yang pada awalnya hanya berupa kerangka dan niat besar orang lain. Namun justru di dalam kemudahan itulah ada sesuatu yang perlahan mengganggunya, bukan karena ia meragukan kemampuannya, melainkan karena kemampuan itu semakin jelas bergerak untuk kepentingan yang tidak akan pernah benar-benar memanggil namanya.

Rizal masih menghubunginya dari waktu ke waktu, kadang hanya dengan pesan singkat yang berisi dorongan agar ia terus melaju, kadang menelepon dengan nada tergesa yang seolah seluruh dunia perbukuan dan layar lebar berada di ujung percakapan mereka.

“Ini kuat, Ga,” katanya suatu sore, ketika Arga baru saja menyelesaikan bab yang menurutnya paling sulit sampai sejauh itu. “Gue enggak lebay, tapi ini kuat. Tokohnya hidup. Lo bikin orang percaya padahal bahan awalnya biasa banget.”

Arga mendengarkan sambil menatap jendela, melihat daun-daun yang bergerak pelan di halaman rumah, lalu menjawab pendek, “Masih ada yang harus dirapikan.”

Di seberang sana Rizal tertawa kecil, terdengar puas sekaligus sibuk. “Selalu itu jawaban lo. Makanya jadi. Orang lain udah senang kalau bisa nulis rapi, lo masih cari yang lebih dalam.”

Arga hampir tersenyum, tetapi urung. Ia tahu pujian semacam itu bukan bohong. Ia juga tahu bahwa pujian itu tidak mengubah apa-apa. Nama penulis sudah ditentukan. Jalur promosi sudah dipikirkan. Orang yang akan duduk di panggung, diwawancarai, dan disebut-sebut sebagai pengarang sebuah novel besar, bukan dia.

“Nama yang di sampul itu sudah fix?” tanyanya, lebih untuk memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui daripada untuk membuka negosiasi apa pun.

“Udah. Dari awal juga begitu,” jawab Rizal, tidak terdengar defensif, hanya praktis. “Lo fokus nulis aja. Yang beginian biar kami yang urus.”

Kami. Kata itu melintas begitu saja, tetapi Arga menangkap bagaimana sebuah kata kecil bisa menyingkirkan seseorang dari pusat sesuatu yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Meski begitu, ia tidak memperpanjang percakapan.

“Iya,” katanya, lalu mendengar Rizal menambahkan sesuatu tentang potensi besar novel itu, tentang kemungkinan dibicarakan banyak orang, tentang pasar yang sedang terbuka untuk cerita-cerita emosional yang dekat dengan kenyataan, sebelum sambungan terputus dan rumah kembali sunyi.

Setelah telepon itu selesai, Arga tidak langsung kembali menulis. Ia membiarkan laptop tetap menyala, halaman yang tadi ia kerjakan masih terbuka di layar, tetapi matanya tidak lagi sungguh-sungguh membaca. Ada sesuatu yang mengendap dari percakapan tadi, bukan semata karena kata-kata Rizal, melainkan karena ia tiba-tiba merasa terlalu akrab dengan posisi yang kembali ia tempati: membuat sesuatu menjadi hidup, lalu berdiri cukup jauh dari kehidupan yang ditimbulkannya. Kesadaran itu semestinya tidak baru, namun ada kalanya hal-hal yang sudah lama kita ketahui tiba-tiba datang kembali dengan bentuk yang lebih telanjang, dan ketika itu terjadi, manusia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kebiasaan.

Ia mencoba memindahkan pikirannya kembali ke naskah, membaca beberapa paragraf yang sudah selesai, memperbaiki satu kalimat, mengubah letak satu adegan, tetapi justru di sela-sela itulah sesuatu yang lain muncul. Bukan sebagai ingatan utuh, bukan pula sebagai satu peristiwa besar yang menuntut untuk diceritakan, melainkan semacam suasana yang lebih dulu datang sebelum detail-detailnya menyusul. Ia merasakan kembali jenis ketegangan yang dulu sering hidup di rumah masa kecilnya, ketegangan yang tidak selalu lahir dari pertengkaran, karena sesungguhnya yang lebih sering hadir justru kebalikannya: kesunyian yang terlalu teratur, langkah kaki yang terdengar dari jauh dan langsung mengubah cara seluruh rumah bernapas, serta kehadiran seorang ayah yang tidak perlu meninggikan suara untuk membuat semua orang menyesuaikan diri.

Lihat selengkapnya