Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #18

HAL-HAL YANG MULAI TERLIHAT JELAS

BAB 18

HAL-HAL YANG MULAI TERLIHAT JELAS

 

 

Setelah malam itu, tidak ada perubahan yang bisa langsung ditunjuk dengan mudah dalam hidup Arga, karena perubahan yang sungguh-sungguh jarang datang dalam bentuk yang dramatis; ia lebih sering merembes, masuk melalui celah-celah kecil yang sebelumnya tidak diperhatikan, lalu perlahan mengubah cara seseorang melihat hal-hal yang selama ini dianggap biasa. Arga tetap bangun seperti biasa, tetap duduk di depan laptop, tetap menulis dengan ketelitian yang sama, bahkan mungkin lebih tajam karena ia kini semakin memahami arah cerita yang sedang ia bangun. Namun di antara semua itu, ada semacam kesadaran yang tidak lagi bisa ia abaikan, seperti bayangan yang tidak hilang meskipun ia tidak menoleh ke arahnya.

Tulisan itu berkembang cepat. Ia mulai memasuki bagian-bagian yang lebih dalam, konflik yang tidak lagi bisa diselesaikan dengan satu adegan, karakter-karakter yang menuntut konsistensi emosi yang lebih rumit, dan anehnya, justru di situlah ia merasa paling hidup. Setiap kali ia menemukan satu kalimat yang tepat, satu adegan yang tidak berlebihan tetapi cukup untuk menahan pembaca, ia merasakan sesuatu yang selama ini selalu ia cari dalam menulis, perasaan bahwa ia berada di tempat yang seharusnya. Namun perasaan itu tidak lagi berdiri sendiri. Ia datang bersama sesuatu yang lain, sesuatu yang membuatnya bertanya, meskipun tanpa kata-kata yang jelas, mengapa hal yang paling membuatnya hidup justru semakin menjauhkannya dari kehidupan yang ia jalani di luar tulisan.

Rizal kembali menelepon beberapa hari kemudian, suaranya terdengar lebih cepat dari biasanya, seperti seseorang yang baru saja melihat peluang yang tidak ingin ia lewatkan. “Ga, ini kita percepat ya. Gue sudah bicara sama tim. Kalau draft pertama lo selesai bulan ini, kita langsung masuk proses berikutnya.”

Arga mendengarkan tanpa menyela. “Masih butuh waktu buat bagian akhir,” katanya.

“Berapa lama?”

Arga melihat ke layar, ke bagian yang belum selesai, ke arah yang sudah ia bayangkan tetapi belum sepenuhnya ia tulis. “Kalau dipaksa cepat, bisa. Tapi hasilnya beda.”

Di ujung sana terdengar jeda kecil, lalu Rizal menghela napas. “Gue ngerti. Tapi ini momentum. Lo juga pasti ngerasa kan ini bisa besar?”

Arga tidak langsung menjawab. Ia tahu pertanyaan itu tidak membutuhkan kejujuran yang dalam, hanya konfirmasi agar semuanya bisa terus berjalan. “Iya,” katanya akhirnya.

“Ya sudah, kita cari titik tengah. Tapi jangan terlalu lama, Ga.”

“Iya.”

Setelah percakapan itu selesai, Arga meletakkan ponselnya dan kembali menatap layar. Ia tahu apa yang dimaksud Rizal. Ia juga tahu bahwa apa yang sedang ia kerjakan memang memiliki kemungkinan untuk menjadi sesuatu yang besar, dan justru karena itu, ia mulai merasakan ironi yang semakin sulit diabaikan. Ia bekerja lebih dalam dari sebelumnya, memasukkan sesuatu yang tidak diminta tetapi membuat cerita itu hidup, dan pada saat yang sama, ia juga semakin jauh dari apa yang selama ini ia anggap sebagai hidupnya sendiri.

Ia menulis sampai sore, berhenti hanya ketika ibunya memanggil dari dapur. “Ga, makan dulu.”

“Iya, Bu.”

Ia berdiri, berjalan ke dapur, duduk di kursi yang sudah lama ia kenal, lalu makan tanpa banyak bicara. Ibunya sesekali melihatnya, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi.

“Kamu capek?” tanya ibunya akhirnya.

Arga mengangkat bahu sedikit. “Biasa.”

“Kerja terus dari pagi.”

Lihat selengkapnya