Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #19

HAL-HAL YANG SELALU MENUNDA KEPULANGAN

BAB 19

HAL-HAL YANG SELALU MENUNDA KEPULANGAN

 

 

Pagi sesudah percakapan video dengan Ryan itu datang dengan udara yang lebih dingin daripada biasanya, atau mungkin Arga hanya merasakannya seperti itu karena semalaman ia tidak tidur sepenuhnya. Ia beberapa kali terbangun, memejamkan mata lagi, lalu terbuka sekali lagi dengan kalimat yang sama berputar di kepalanya, bukan dalam bentuk pertanyaan yang lengkap, melainkan seperti gema yang belum selesai mencari tempat untuk berhenti.

Aku tunggu ya.

Tidak ada yang istimewa dalam susunan kata itu, tidak ada beban besar yang sengaja diletakkan di sana, namun justru karena kesederhanaannya, ia terasa begitu telanjang, seperti sesuatu yang tidak memberi ruang bagi penafsiran apa pun selain kehadiran atau ketiadaannya.

Ia bangun lebih pagi daripada biasanya, duduk cukup lama di tepi ranjang sebelum benar-benar berdiri, mendengarkan rumah yang masih separuh diam, batuk ibunya yang belum terdengar, bunyi ayam tetangga yang datang seperti kewajiban dari dunia luar, dan untuk sesaat ia membayangkan dirinya berangkat pagi itu juga ke Jogja, bukan dengan alasan yang rumit, bukan karena ada urusan besar yang perlu dibereskan, melainkan hanya untuk menepati sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia janjikan dengan jelas tetapi sudah terlanjur hidup di mata anaknya. Bayangan itu datang dengan sangat sederhana. Ia akan mandi, menyalakan motor, membawa dua atau tiga baju, sampai di sana menjelang malam, lalu duduk lagi di dekat Ryan seperti beberapa hari lalu. Tidak ada yang sulit dibayangkan dari itu, dan mungkin justru karena itulah ia terasa mungkin.

Ketika ia keluar kamar dan menemukan ibunya sudah duduk di ruang tengah dengan selimut masih melingkari bahunya, wajah tua perempuan itu tampak lebih letih dari biasanya. Ia tidak sedang sakit dengan cara yang bisa segera dinamai, tetapi tubuh yang tua memiliki bahasa sendiri yang lebih peka daripada keluhan. Ada hari-hari ketika semua tampak berjalan seperti biasa, lalu tanpa peringatan apa pun tenaga seperti berkurang setengah.

“Kok bangun cepat?” tanya ibunya.

Arga menuang air ke gelas, lalu menjawab, “Kebangun.”

Ibunya mengangguk kecil. “Semalam kamu lama tidurnya.”

“Iya.”

“Kerjaan banyak?”

Arga menoleh sebentar, lalu duduk di kursi seberang. “Lumayan.”

Ibunya tidak bertanya lebih jauh. Kalimat-kalimat di antara mereka sering berhenti justru ketika orang lain mungkin baru mulai. Namun beberapa detik kemudian, perempuan tua itu berkata pelan, seolah hanya sedang mengingatkan sesuatu yang bagi dirinya sudah terlalu jelas untuk dijelaskan panjang-panjang, “Kalau kamu mau pergi, ya pergi saja. Ibu di rumah enggak apa-apa.”

Arga menatap ibunya lebih lama dari yang seharusnya. “Saya belum bilang mau pergi.”

“Ibu tahu wajah orang yang kepalanya enggak di sini.”

Arga tidak tersenyum, tetapi ada sesuatu yang mengendur sedikit di dalam dadanya. Ibunya mungkin tidak pernah masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya, tidak seperti ibunya Lintang yang menilai dalam diam, tidak juga seperti ayahnya yang mengatur kehadiran orang lain dengan cara yang kasar sekaligus jauh, tetapi perempuan ini memiliki cara melihat yang tidak banyak bicara namun sering tepat.

“Ryan nanya lagi?” tanya ibunya.

“Iya.”

“Terus?”

Lihat selengkapnya