BAB 20
SESUATU YANG MULAI HIDUP TANPA NAMANYA
Beberapa hari setelah percakapan itu, hidup Arga berjalan seperti biasa di permukaan, tetapi ada sesuatu yang perlahan berubah cara ia melihat hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan. Ia tetap menulis, tetap menyusun kalimat dengan ketelitian yang sama, tetap menahan bagian-bagian tertentu agar tidak terlalu cepat selesai, tetapi kini setiap kali ia berhenti, bahkan hanya beberapa detik untuk meregangkan tangan atau mengalihkan pandangan dari layar, dunia di luar seperti masuk dengan cara yang berbeda, bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai sesuatu yang tiba-tiba memiliki hubungan langsung dengan apa yang sedang ia jalani.
Perubahan itu tidak datang dari satu peristiwa besar, melainkan dari hal-hal yang tampak sepele jika dilihat terpisah, tetapi ketika bertumpuk, membentuk sesuatu yang tidak bisa lagi diabaikan. Ia melihatnya pertama kali dari sebuah potongan video pendek yang muncul di layar ponselnya, sebuah cuplikan wawancara di televisi yang dibagikan seseorang di media sosial, menampilkan wajah yang ia kenal, seorang teman lama yang dulu sering duduk bersamanya di warung kopi murah, berbicara panjang tentang perubahan, tentang sistem yang harus digeser, tentang masa depan yang waktu itu masih terasa bisa dinegosiasikan dengan idealisme. Kini laki-laki itu duduk di kursi empuk sebuah studio, mengenakan jas yang pas di badan, berbicara dengan tenang tentang kebijakan, tentang tanggung jawab, tentang arah bangsa, dan di bagian bawah layar, namanya disertai jabatan yang dulu mungkin hanya mereka sebut dengan setengah bercanda.
Arga menonton sampai selesai tanpa ekspresi yang jelas, bukan karena ia tidak merasakan apa-apa, melainkan karena ia tidak tahu harus merasakan apa. Tidak ada rasa iri yang meledak, tidak juga kebanggaan yang utuh. Yang ada lebih seperti kesadaran yang pelan tetapi pasti, bahwa kehidupan yang dulu mereka bayangkan bersama kini berjalan dalam jalur yang tidak lagi bisa disatukan hanya dengan ingatan.
Ia menutup video itu, tetapi tidak langsung menyimpan ponselnya. Jarinya bergerak tanpa tujuan yang jelas, membuka satu aplikasi, menutup yang lain, lalu berhenti pada sesuatu yang tidak ia cari secara khusus, tetapi muncul begitu saja di hadapannya. Sebuah unggahan dari sebuah akun penerbit yang cukup besar, menampilkan gambar sampul sebuah buku yang masih berupa desain awal, dengan keterangan yang tidak panjang, hanya beberapa kalimat promosi yang mencoba membangun rasa penasaran pembaca.
Arga tidak langsung menyadari apa yang ia lihat.
Ia membaca judulnya. Membaca nama penulisnya. Lalu tanpa perlu membaca lebih jauh, sesuatu di dalam dirinya seperti berhenti sejenak, bukan karena terkejut dalam arti yang kasar, tetapi karena ada pengenalan yang datang terlalu cepat untuk disangkal.
Ia membuka gambar itu lebih besar. Melihat desainnya. Melihat pilihan kata di deskripsinya. Dan tanpa perlu membuktikan dengan logika, ia tahu. Itu adalah cerita yang sedang ia tulis. Atau lebih tepatnya, cerita yang telah ia tulis cukup jauh untuk bisa dikenali bahkan dalam bentuk promosi yang belum sepenuhnya selesai.
Ia tidak segera bereaksi. Tidak ada gerakan tiba-tiba. Tidak ada kalimat yang keluar dari mulutnya. Ia hanya duduk, memandang layar itu lebih lama dari yang seharusnya, seolah dengan melihatnya cukup lama, ia bisa menemukan sesuatu yang mungkin salah, sesuatu yang bisa membuktikan bahwa ia keliru. Namun tidak ada yang salah di sana. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Nama penulis itu memang bukan namanya. Penerbit itu memang bukan tempat yang akan mencantumkan dirinya. Deskripsi itu bahkan cukup akurat menggambarkan apa yang sedang ia bangun, hanya saja tanpa jejak bahwa semua itu pernah melewati tangannya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rizal.
“Udah mulai kita naikin. Ini baru soft promo. Gimana, keren kan?”