BAB 21
HAL-HAL YANG TETAP DIKERJAKAN MESKI TIDAK LAGI SAMA
Setelah hari ketika ia melihat namanya tidak ada di sana, bahkan sejak awal memang tidak pernah dimaksudkan untuk ada, Arga tidak berhenti menulis, dan mungkin justru di situlah letak hal yang paling sulit dijelaskan dari semua yang ia jalani. Ia tidak menarik diri, tidak juga menunda pekerjaan dengan alasan yang bisa ia gunakan untuk membenarkan dirinya sendiri. Sebaliknya, ia kembali ke meja, membuka laptop, membaca ulang bagian yang sudah ia tulis, lalu melanjutkan dengan ketelitian yang sama seperti sebelumnya, seolah apa yang ia ketahui tidak mengubah apa pun. Namun yang berubah bukan tindakannya, melainkan cara ia berada di dalam tindakan itu.
Kini setiap kalimat yang ia susun memiliki dua lapisan yang berjalan bersamaan. Yang pertama adalah lapisan yang selama ini selalu ia kenal, tentang ritme, tentang penempatan emosi, tentang bagaimana menahan sesuatu agar tidak terlalu cepat selesai. Yang kedua lebih sunyi, tetapi tidak kalah nyata: kesadaran bahwa apa yang ia bangun tidak lagi berhenti di tangannya. Ia tidak menulis sesuatu yang akan kembali kepadanya, melainkan sesuatu yang sudah mulai bergerak menjauh bahkan sebelum selesai.
Ia menyadari itu tanpa perlu mengulang-ulangnya di kepala.
Kesadaran semacam itu tidak perlu diingat.
Ia tinggal.
Beberapa hari kemudian, Rizal datang ke Batu tanpa banyak pemberitahuan. Ia menelepon ketika sudah hampir sampai, suaranya tetap cepat seperti biasa, seolah setiap percakapan harus selesai sebelum waktu habis.
“Ga, gue di depan. Lo di rumah?”
“Iya.”
Arga turun beberapa menit kemudian dan menemukan Rizal berdiri di dekat mobilnya, mengenakan kemeja rapi yang tidak pernah ia pakai ketika mereka dulu masih sering bertemu tanpa rencana. Mereka saling menyalami, tidak canggung, tetapi juga tidak sepenuhnya kembali ke bentuk lama.
“Gue sekalian lewat,” kata Rizal sambil melihat ke sekitar, seolah memastikan tempat itu sesuai dengan bayangan yang ia miliki. “Kita ngomong bentar aja.”
Mereka duduk di ruang depan. Ibunya Arga keluar sebentar, menyapa singkat, lalu kembali ke dalam tanpa banyak bertanya.
Rizal membuka laptopnya, memutar layar sedikit agar bisa dilihat bersama. “Ini,” katanya, menampilkan sesuatu yang sudah lebih lengkap dari yang pernah dilihat Arga sebelumnya. Desain sampul yang lebih matang, strategi promosi, daftar media yang akan dilibatkan, bahkan kemungkinan adaptasi yang dibicarakan dengan nada yang tidak lagi terdengar seperti angan-angan.
“PH udah mulai tertarik,” lanjut Rizal. “Belum deal, tapi arahnya ke sana. Kalau ini tembus, bisa panjang.”
Arga melihat semua itu tanpa menyela. Ia tidak perlu membaca semua detail untuk memahami ke mana arah pembicaraan itu akan berjalan.
“Bagian akhir lo harus kuat,” kata Rizal. “Itu penentu.”
Arga mengangguk. “Masih gue tahan.”