BAB 22
JARAK YANG DITEMPUH DENGAN TUBUH
Pagi ketika Arga benar-benar memutuskan untuk berangkat ke Jogja tidak datang dengan rasa mantap yang bersih, tidak juga dengan semacam keberanian besar yang membuat semua hal tiba-tiba terasa lebih sederhana. Ia bangun seperti biasa, bahkan beberapa menit pertama setelah membuka mata ia nyaris mengira hari itu akan berjalan sebagaimana hari-hari sebelumnya: ibunya akan batuk dari kamar, air akan dipanaskan, laptop akan dibuka, naskah itu akan menunggunya dengan kesabaran yang sama, dan ia akan duduk cukup lama sampai dirinya kembali tenggelam ke dalam pekerjaan yang makin hari makin terasa seperti satu-satunya hal yang ia kuasai tanpa perlu menebak-nebak. Namun kali ini ada sesuatu yang sudah lebih dulu berdiri di antara dirinya dan kebiasaan itu. Kalimat yang ia ucapkan semalam di telepon tidak hilang ketika pagi datang. Ia tidak larut menjadi salah satu dari sekian banyak “nanti” yang selama ini memudahkan hidupnya bergerak tanpa keputusan. Kalimat itu tetap ada, sederhana, keras kepala, tidak membesar tetapi juga tidak surut: Aku ke sana minggu ini.
Ia duduk beberapa saat di tepi ranjang, mendengarkan rumah yang perlahan bangun, dan menyadari bahwa apa yang membuat sebuah keputusan terasa berat bukan semata karena konsekuensinya besar, melainkan karena begitu ia diambil, manusia tidak lagi bisa bersembunyi dari dirinya sendiri. Selama ini ia masih bisa menyebut semua yang tertunda sebagai keadaan, sebagai tuntutan, sebagai akibat dari banyak hal yang datang bersamaan dan menuntut perhatian. Tetapi begitu ia benar-benar memutuskan untuk bergerak, semua alasan itu harus mundur dan memperlihatkan wajahnya yang lain: bahwa sebagian dari keterlambatannya memang berasal dari dirinya sendiri.
Di dapur, ibunya sudah duduk dengan segelas teh yang dibiarkan terlalu lama hingga warnanya lebih gelap dari biasanya. Arga masuk dengan langkah yang lebih cepat dari kebiasaan, mungkin karena tidak ingin memberi dirinya terlalu banyak waktu untuk berubah pikiran. Ibunya memandangnya sebentar, lalu tanpa menanyakan lebih dulu, berkata, “Mau berangkat hari ini?”
Arga berhenti sejenak. “Iya.”
Perempuan tua itu tidak terkejut. Mungkin karena ia memang sudah menduga. Mungkin juga karena orang-orang seusia ibunya tidak lagi memerlukan penjelasan panjang untuk mengetahui kapan seseorang sedang membawa sesuatu yang lebih berat dari hari-hari biasa.
“Nanti siang atau sekarang?”
“Pagi ini.”
Ibunya mengangguk, mengangkat gelasnya sedikit, lalu meletakkannya lagi. “Ya sudah. Sarapan dulu.”
Arga duduk di kursi seberang, dan untuk beberapa saat mereka terdiam dengan tenang. Tidak ada drama dalam keheningan itu. Tidak ada nasihat besar. Hanya dua orang yang sama-sama tahu bahwa hidup sering kali menuntut keputusan di tengah keadaan yang belum siap sepenuhnya menampungnya.
“Ibu enggak apa-apa sendiri?” tanya Arga akhirnya.
Ibunya menatap ke arah panci yang masih di atas kompor sebelum menjawab, “Dari dulu juga ibu sering sendiri.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan maksud menyentil, tetapi justru karena nada suaranya datar, ia terasa lebih dalam dari yang seharusnya.
Arga menunduk sedikit, lalu berkata, “Nanti saya usahakan enggak lama.”
Ibunya menghela napas pendek, tidak seperti orang yang lelah, tetapi seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup dengan kata-kata semacam itu sehingga tahu persis bobotnya. “Kamu kalau pergi jangan sambil mikir pulang. Kalau masih mikir pulang, nanti badanmu enggak nyampe-nyampe.”
Arga hampir tersenyum, sebab dalam kalimat yang sederhana itu ada sesuatu yang lebih bijaksana daripada banyak hal yang pernah ia baca dalam buku. Ia mengangguk. “Iya.”
Sebelum berangkat, ia sempat membuka laptop hanya untuk mengirimkan dua file yang sudah selesai kepada Rizal. Ia tidak menambahkan penjelasan panjang, hanya satu pesan singkat bahwa ia akan pergi ke Jogja dan kemungkinan baru bisa melanjutkan penuh setelah sampai. Balasan Rizal datang cepat, seperti biasa, dengan nada yang setengah mendesak setengah memberi kelonggaran yang tak sungguh-sungguh lapang.
Oke. Tapi jangan lama, Ga. Kita udah deket banget sama full draft.
Arga membaca pesan itu, lalu meletakkan ponsel tanpa membalas. Ada rasa lega kecil ketika ia tidak langsung menuruti kecepatan nada itu. Bukan pembangkangan, hanya semacam penundaan balik yang untuk pertama kalinya ia berikan kepada orang lain, bukan kepada dirinya sendiri.
Jalan dari Batu menuju Jogja sekali lagi terbuka panjang di hadapannya, dan Arga menyadari bahwa jarak yang sama bisa terasa sangat berbeda bergantung pada apa yang dibawa seseorang di dalam kepalanya. Beberapa perjalanan ia tempuh dengan tubuh yang bergerak dan pikiran yang tertinggal di belakang. Kali ini justru sebaliknya: tubuhnya seperti hanya mengikuti sesuatu yang sudah diputuskan lebih dulu di dalam dirinya. Ia berhenti beberapa kali, bukan sekadar karena motor tua itu membutuhkan jeda, melainkan karena punggungnya masih belum sepenuhnya pulih dari perjalanan sebelumnya dan jalan sejauh itu tidak pernah benar-benar jinak bagi tubuh yang sudah terlalu lama kelelahan dengan banyak cara.
Di sebuah warung kecil dekat perbatasan kota, ia minum kopi yang terlalu manis, duduk sambil melihat kendaraan besar lewat, dan mendapati bahwa untuk pertama kalinya ia tidak sedang menggunakan perjalanan sebagai ruang untuk melarikan diri dari sesuatu. Ia justru bergerak menuju sesuatu yang selama ini selalu berhasil ia tunda.
Di sela-sela perjalanan itu, ponselnya sesekali bergetar di saku. Pesan dari Rizal masuk, lalu pesan lain dari seseorang yang menanyakan kelanjutan naskah, dan sesekali nama Lintang muncul, tidak dengan kalimat panjang, hanya memastikan bahwa Ryan sedang menunggunya pulang terapi nanti sore. Arga membalas ketika berhenti. Iya. Aku jalan. Hanya itu, tetapi bagi dirinya sendiri, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang tak lagi metaforis. Ia benar-benar di jalan. Untuk menuju mereka.
Ketika ia akhirnya sampai di Jogja, cahaya sore mulai turun, dan kota itu menyambutnya dengan panas yang belum sepenuhnya luruh meski hari telah condong. Rumah ibu Lintang tampak sama seperti sebelumnya, tetapi kali ini Arga tidak berhenti lama di depan gerbang. Ia mematikan mesin motor, melepas helm, lalu langsung membuka pagar. Tidak ada waktu yang disisakan untuk menyiapkan diri. Pintu rumah terbuka sebelum ia sempat mengetuk, dan adik Lintang yang muncul lebih dulu hanya mengangguk ringan, seperti kehadiran Arga tidak lagi dianggap mengejutkan maupun istimewa.
“Baru sampai, Mas?”
“Iya. Ryan?”