Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #23

HAL YANG TIDAK BISA DITINGGALKAN TANPA MENINGGALKAN SESUATU

BAB 23

HAL YANG TIDAK BISA DITINGGALKAN TANPA MENINGGALKAN SESUATU

 

 

Hari berikutnya di Jogja tidak dimulai dengan peristiwa besar, melainkan dengan sesuatu yang nyaris tak terlihat jika dilihat dari luar: Arga terbangun lebih pagi dari semua orang di rumah itu, duduk di ruang depan dengan tubuh yang masih menyimpan sisa lelah perjalanan, dan untuk beberapa menit tidak melakukan apa-apa selain mendengarkan napas rumah yang masih tidur. Ada sesuatu yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya di Batu; bukan karena suasananya lebih hangat atau lebih tenang, tetapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, ia tidak terjaga sendirian oleh sesuatu yang ingin ia hindari, melainkan oleh sesuatu yang ia datangi sendiri.

Ia tidak langsung membuka ponsel, tidak langsung memikirkan naskah. Ia hanya duduk, menatap cahaya yang perlahan masuk dari celah jendela, dan menyadari bahwa kehadiran memiliki bentuk yang jauh lebih sunyi daripada yang selama ini ia bayangkan. Tidak ada perayaan di dalamnya. Tidak ada rasa lega yang besar. Hanya ada keberadaan yang sederhana, tetapi justru karena itu, ia menuntut sesuatu yang tidak bisa disiasati.

Suara dari kamar belakang mulai terdengar.

Lintang bangun lebih dulu, seperti biasa. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara, tetapi Arga sudah cukup mengenal ritmenya untuk tahu siapa yang bergerak bahkan sebelum melihatnya.

“Kamu belum tidur?” tanya Lintang ketika melihatnya.

“Udah. Cuma kebangun.”

Lintang mengangguk, lalu berjalan ke dapur. Tidak lama kemudian suara air mengalir terdengar, diikuti bunyi peralatan dapur yang saling bersentuhan. Semua berjalan seperti rutinitas yang sudah terlalu lama dilakukan untuk perlu dipikirkan lagi.

Ryan bangun tidak lama setelah itu.

Arga yang sedang duduk di ruang tengah menoleh ketika mendengar suara kecil dari kamar. Lintang membantunya keluar, dan seperti kemarin, wajah anak itu langsung berubah ketika melihat Arga.

“Papa belum pulang?”

Arga tersenyum. “Belum.”

Ryan terlihat puas dengan jawaban itu, seolah dunia masih berada di tempat yang seharusnya. “Hari ini terapi lagi.”

“Iya. Papa temenin.”

Jawaban itu keluar tanpa jeda, dan kali ini Arga merasakan sesuatu yang berbeda ketika mengucapkannya. Bukan lagi sekadar keinginan untuk memenuhi harapan, tetapi semacam kesediaan untuk benar-benar berada di dalamnya.

Perjalanan ke tempat terapi tidak jauh, tetapi cukup untuk membuat Arga melihat sesuatu yang selama ini hanya ia dengar dari cerita Lintang. Ruang itu tidak besar. Tidak juga dirancang untuk membuat orang merasa nyaman dalam arti yang biasa. Ada beberapa anak lain dengan kondisi yang berbeda, beberapa orang tua yang duduk menunggu dengan wajah yang tidak selalu bisa dibaca, dan terapis yang bergerak dari satu anak ke anak lain dengan kesabaran yang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat.

Ryan dibantu berdiri.

Tubuhnya masih kaku, seperti yang selalu Arga lihat, tetapi kali ini ia berada lebih dekat, cukup dekat untuk merasakan bagaimana setiap gerakan kecil membutuhkan usaha yang tidak terlihat dari luar. Terapis itu berbicara pelan, memberi instruksi yang sederhana, dan Ryan mencoba mengikuti dengan cara yang kadang berhasil, kadang tidak.

Lihat selengkapnya