Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #24

HAL-HAL YANG MENARIK DARI DUA ARAH

Malam setelah terapi itu tidak segera menjadi malam yang tenang bagi Arga, meskipun dari luar semuanya tampak bergerak menuju ketenangan sebagaimana rumah-rumah kecil biasanya bergerak ketika hari telah terlalu panjang untuk diteruskan dengan percakapan. Ryan tidur lebih cepat dari biasanya, tubuhnya lelah oleh latihan yang untuk orang lain mungkin tampak kecil, tetapi bagi dirinya selalu berarti negosiasi yang panjang antara kemauan dan kemampuan. Lintang membereskan beberapa hal di dapur dengan ketepatan yang tidak berubah, ibunya masuk ke kamar tanpa banyak suara, dan adiknya, seperti biasa, hilang ke ruang lain dengan hidupnya sendiri yang tidak pernah benar-benar diceritakan. Rumah itu lalu jatuh ke dalam bentuk yang paling jujur: sunyi yang tidak kosong, melainkan berisi napas orang-orang yang tinggal di dalamnya, bunyi kipas angin, sesekali suara kendaraan dari ujung gang, dan segala sesuatu yang kecil tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa hidup tidak pernah benar-benar berhenti.

Arga duduk di ruang depan dengan laptop terbuka, tetapi belum mulai mengetik. Ia tahu apa yang ditunggu di layar itu, tahu bagian mana yang harus ia selesaikan, tahu betul bagaimana cara membangun akhir yang akan membuat pembaca tidak bisa begitu saja menutup buku tanpa membawa sesuatu pulang bersama mereka. Semua pengetahuan itu ada, utuh, siap dipakai, dan justru karena itulah ia merasa semakin sulit duduk tenang di hadapannya. Semakin jelas seseorang memahami apa yang harus dilakukan, kadang semakin nyata pula harga dari melakukan hal itu.

Lintang keluar dari dapur sambil mengeringkan tangan dengan kain kecil. Ia tidak langsung duduk. Ia melihat layar laptop, lalu melihat wajah Arga, seolah tidak sedang mencari jawaban, hanya mencatat sesuatu yang sudah cukup sering ia temui untuk tidak lagi salah membacanya.

“Kamu mau ngerjain sekarang?” tanyanya.

Arga mengangguk sedikit. “Iya. Biar enggak terlalu mundur.”

Lintang berdiri beberapa detik, lalu duduk di kursi seberang. Wajahnya tidak menampakkan keberatan, tetapi juga tidak sungguh-sungguh melepaskan Arga dari kalimat yang baru saja ia ucapkan.

“Kalau harus dikerjain, ya kerjain,” katanya akhirnya. “Aku cuma kadang bingung aja. Kok hidup kita selalu kalah sama sesuatu yang belum jadi.”

Kalimat itu datang dengan sangat pelan, seperti tidak ditujukan untuk melukai, tetapi justru karena nadanya begitu rata, Arga merasakan bagaimana ia masuk lebih dalam daripada tuduhan yang disampaikan dengan suara keras. Ia tidak langsung menjawab. Ada terlalu banyak hal yang bergerak dalam dirinya sekaligus, dan ia tahu bahwa jawaban yang terlalu cepat hanya akan terdengar seperti pembelaan, padahal yang ia rasakan bukan sekadar ingin membela diri.

“Aku juga bingung,” katanya akhirnya.

Lintang tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak bertahan lama. “Mas selalu bilang begitu.”

Arga menunduk. Ia tahu bahwa yang membuat kalimat-kalimat seperti itu menyakitkan bukan karena isinya tidak benar, melainkan karena isinya terlalu benar untuk dibantah. Ia membuka laptop lebih lebar, seolah dengan begitu percakapan bisa ditunda, tetapi Lintang tidak menambahkan apa-apa. Perempuan itu hanya duduk sebentar lagi, lalu bangkit.

“Jangan terlalu malam,” katanya sebelum masuk ke kamar.

Arga hampir tertawa mendengar kalimat yang sama muncul lagi, kali ini dari mulut yang berbeda, dengan beban yang berbeda pula. Namun ia tidak jadi tertawa. Ia hanya menjawab pelan, “Iya.”

Ketika akhirnya ia mulai mengetik, kalimat-kalimat itu datang seperti selalu, dengan ketertiban yang membuatnya kadang merasa ngeri pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin sesuatu yang terasa begitu kacau di dalam hidupnya bisa diterjemahkan menjadi struktur yang begitu rapi di layar. Ia membangun adegan akhir dengan kesadaran penuh tentang ritme, tentang kapan sebuah luka harus dibiarkan terbuka sedikit lebih lama, tentang kapan harapan perlu dibuat tampak mungkin justru agar kehancurannya terasa lebih telanjang. Ia tahu persis apa yang ia lakukan, dan di saat yang sama ia tahu bahwa apa yang sedang ia bangun itu tidak berhenti sebagai pekerjaan biasa lagi. Ada sesuatu yang lebih besar yang telah mencium keberadaannya. Penerbit sudah bergerak. Production house sudah mengintip dari kejauhan. Nama orang lain sudah mulai diposisikan di tempat yang terang. Dan ia sendiri, laki-laki yang duduk dengan cahaya laptop menyinari wajah yang lelah di ruang depan rumah mertuanya, hanya diberi jatah untuk memastikan semua itu cukup hidup agar pantas diperebutkan.

Ponselnya bergetar menjelang tengah malam. Rizal lagi.

Lihat selengkapnya