BAB 25
AKHIR YANG DISUSUN OLEH SESEORANG YANG TIDAK PERNAH SAMPAI
Hari-hari berikutnya di Jogja berjalan dengan ritme yang tampak sederhana di permukaan, tetapi bagi Arga justru terasa semakin padat oleh sesuatu yang tidak bisa ia ringankan dengan cara apa pun. Ia menemani Ryan ke terapi lagi, duduk di ruang yang sama, melihat gerakan-gerakan kecil yang berulang, mendengar instruksi yang hampir serupa dengan hari sebelumnya, namun kali ini ia tidak lagi berdiri sebagai seseorang yang baru melihat, melainkan sebagai seseorang yang mulai menyadari bahwa kehadiran yang berulang adalah satu-satunya cara bagi sesuatu untuk benar-benar tumbuh. Tidak ada perubahan yang langsung tampak besar, tidak ada lompatan yang bisa dirayakan dengan tepuk tangan, tetapi di dalam gerakan yang hampir sama itu, ia mulai melihat perbedaan-perbedaan kecil yang hanya bisa ditangkap oleh mata yang mau tinggal lebih lama.
Ryan berdiri sedikit lebih lama sebelum goyah.
Tangannya lebih cepat mencari keseimbangan.
Tatapannya tidak lagi langsung berpindah ketika gagal, melainkan mencoba lagi dengan cara yang sama.
Hal-hal kecil seperti itu, yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, perlahan-lahan mengisi ruang di dalam diri Arga dengan sesuatu yang tidak bisa ia gantikan dengan apa pun yang ia kerjakan di depan laptop. Ia tidak bisa menyebutnya sebagai kebahagiaan. Terlalu sederhana untuk itu. Lebih seperti pengakuan diam bahwa kehidupan memiliki bentuk yang tidak selalu bisa diukur dengan keberhasilan yang bisa diceritakan.
Namun di sela-sela semua itu, sesuatu yang lain terus bergerak tanpa menunggu.
Ponselnya tidak pernah benar-benar diam.
Pesan dari Rizal datang dengan interval yang semakin rapat, tidak lagi hanya menanyakan perkembangan, tetapi mulai memberi tekanan yang tidak perlu diucapkan secara kasar untuk terasa.
Ga, endingnya udah kebayang belum? Kita butuh emosi yang nempel, bukan yang aman.
Ini udah masuk tahap yang enggak bisa kita main-mainin lagi.
Arga membaca semua itu di sela-sela waktu, kadang saat menunggu Ryan selesai, kadang saat Lintang sedang berbicara dengan terapis, kadang bahkan saat ia sendiri sedang duduk di ruang tengah rumah itu tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak langsung menjawab setiap pesan. Ia memilih waktu, seperti seseorang yang mulai mencoba mengatur ulang siapa yang berhak menarik perhatiannya lebih dulu.
Namun malam selalu membawa semua itu kembali ke satu titik.
Setelah rumah tenang, setelah Ryan tidur, setelah suara-suara kecil mengendap menjadi latar yang hampir tidak terdengar, Arga kembali duduk di depan laptop. Kali ini bukan lagi dengan keraguan yang sama seperti beberapa hari lalu, melainkan dengan kesadaran yang jauh lebih telanjang: ia sedang menyusun akhir dari sesuatu yang tidak akan pernah menjadi miliknya, dan justru karena itu, ia harus membuatnya sejujur mungkin.
Halaman kosong itu tidak lagi menakutkan. Yang menakutkan adalah apa yang akan ia isi di sana.
Ia mulai mengetik dengan pelan, bukan karena ragu, tetapi karena ia tahu bahwa setiap kalimat yang ia tulis sekarang tidak bisa lagi ditarik kembali. Ia membangun adegan terakhir dengan hati-hati, menahan bagian-bagian tertentu agar tidak jatuh terlalu cepat, membiarkan emosi mengendap sebelum dilepaskan, seperti seseorang yang tahu bahwa jika ia terlalu terburu-buru, semua yang ia bangun akan kehilangan daya tahan.