Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #26

HAL YANG TIDAK BISA LAGI DIKEMBALIKAN KE SEMULA

BAB 26

HAL YANG TIDAK BISA LAGI DIKEMBALIKAN KE SEMULA

 

 

Pagi setelah malam panjang itu datang tanpa kelegaan yang sering dibayangkan orang ketika sebuah pekerjaan besar hampir selesai. Tidak ada rasa ringan yang tiba-tiba membuat tubuh lebih mudah digerakkan, tidak juga semacam kepuasan yang mengendap seperti hasil dari sesuatu yang telah diselesaikan dengan baik. Arga bangun dengan perasaan yang lebih sulit dijelaskan, bukan karena ia tidak tahu apa yang ia rasakan, tetapi karena apa yang ia rasakan tidak bisa lagi ditempatkan hanya sebagai bagian dari pekerjaan. Sesuatu telah berpindah tempat tanpa meminta izin darinya, dan ia menyadari itu bahkan sebelum benar-benar membuka mata.

Ia duduk di ruang depan seperti pagi-pagi sebelumnya di rumah itu, mendengarkan suara Lintang yang mulai bergerak di dapur, suara kecil Ryan yang terdengar seperti sisa-sisa mimpi yang belum sepenuhnya hilang, dan untuk beberapa saat ia membiarkan dirinya berada di sana tanpa langsung menyentuh ponsel atau laptop. Ada dorongan untuk membuka kembali naskah itu, membaca ulang bagian akhir yang ia tulis, memastikan apakah ia benar-benar telah sampai di tempat yang ia maksud, tetapi ada juga sesuatu yang menahannya. Ia tahu bahwa begitu ia membuka file itu lagi, ia tidak akan hanya membaca cerita. Ia akan membaca dirinya sendiri dengan cara yang tidak lagi bisa ia atur.

“Mas tidur nyenyak?” suara Lintang datang dari arah dapur, tanpa melihatnya.

“Lumayan,” jawab Arga.

Lintang muncul membawa dua gelas teh, meletakkan satu di meja dekatnya tanpa banyak kata. Ia duduk di kursi seberang, memperhatikan Arga beberapa detik sebelum berkata pelan, “Kelihatan capek.”

Arga mengangguk. “Semalam ngerjain.”

Lintang tidak langsung menanggapi. Ia hanya memegang gelasnya, memutar sedikit tanpa benar-benar meminumnya. “Udah selesai?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi Arga tahu bahwa yang ditanyakan Lintang bukan hanya tentang pekerjaan.

“Belum sepenuhnya,” katanya. “Tapi… udah sampai akhir.”

Lintang mengangguk kecil, seperti menerima sesuatu yang sudah ia duga. “Terus?”

Arga menatap ke arah jendela, cahaya pagi yang belum sepenuhnya terang masuk pelan ke dalam ruangan. “Aku belum kirim.”

“Kenapa?”

Arga tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, lalu berkata, “Aku pengen baca lagi.”

Lintang menatapnya lebih lama dari biasanya. “Atau kamu lagi nunda?”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada menuduh, tetapi cukup untuk membuat Arga tersenyum tipis tanpa benar-benar merasa ringan.

“Mungkin dua-duanya,” jawabnya.

Lintang tidak memaksakan respons. Ia hanya mengangguk, lalu berdiri ketika mendengar suara Ryan dari dalam kamar. “Aku lihat dulu ya.”

Arga tetap duduk di tempatnya, gelas teh di tangannya mulai dingin tanpa ia sadari. Ia melihat ke arah laptop yang masih tertutup di meja kecil, dan untuk beberapa saat, ia merasakan sesuatu yang aneh: ketakutan yang tidak datang dari kegagalan, melainkan dari kemungkinan bahwa apa yang ia tulis benar.

Lihat selengkapnya