BAB 27
YANG DIKIRIMKAN TIDAK PERNAH BENAR-BENAR PERGI
Pagi itu datang dengan cara yang hampir tidak bisa dibedakan dari pagi-pagi lain, tetapi Arga merasakannya seperti sesuatu yang telah bergeser sedikit dari tempatnya semula, bukan perubahan yang bisa ditunjuk dengan jelas, melainkan pergeseran halus yang membuat segala sesuatu tampak sama tetapi terasa berbeda. Ia sudah duduk di ruang depan sebelum rumah benar-benar bangun, laptop terbuka di hadapannya, layar memantulkan cahaya pucat yang belum sepenuhnya mengalahkan sisa gelap dari malam. Dari dapur terdengar gerakan Lintang yang pelan dan teratur, seperti seseorang yang telah terlalu lama hidup dalam ritme yang tidak lagi perlu dipikirkan, sementara dari kamar terdengar napas Ryan yang masih terjaga dalam tidurnya, dunia kecil yang belum tahu apa pun tentang keputusan-keputusan yang sering kali menentukan arah hidup orang dewasa tanpa pernah mereka sadari.
File itu masih terbuka di layar, bagian akhir yang semalam ia tulis masih berdiri di sana dengan ketenangan yang tidak sepenuhnya jujur, seperti sesuatu yang tampak selesai tetapi menyimpan konsekuensi yang belum benar-benar hadir. Arga tidak langsung menyentuh apa pun. Ia hanya duduk, menatap, membiarkan matanya membaca tanpa benar-benar masuk, seolah ada jarak tipis yang masih ingin ia pertahankan antara dirinya dan apa yang telah ia tulis. Ia tahu, begitu ia benar-benar membaca dengan kesadaran penuh, ia tidak akan lagi bisa berpura-pura bahwa itu hanya sebuah pekerjaan.
Ia akhirnya menggerakkan tangannya, menggulir halaman ke atas, membaca ulang beberapa bagian dengan perlahan, bukan dengan mata seorang penulis yang sedang mencari celah untuk memperbaiki, melainkan seperti seseorang yang sedang mendengarkan dirinya sendiri berbicara dalam keadaan yang tidak sepenuhnya ia kendalikan. Di beberapa bagian, ia berhenti lebih lama, bukan karena kalimatnya salah, tetapi karena ia mengenali sesuatu yang terlalu dekat untuk diabaikan. Ia melihat ayah yang tidak hadir, anak yang menunggu, perempuan yang bertahan tanpa pernah benar-benar diminta untuk menjadi pusat cerita. Ia melihat bukan sebagai konsep, melainkan sebagai sesuatu yang pernah dan sedang ia jalani, dan untuk pertama kalinya ia tidak memiliki jarak yang cukup untuk menempatkan itu semua hanya sebagai bahan.
Lintang muncul dari dapur tanpa suara, berdiri beberapa langkah di belakangnya, tidak mendekat, tidak juga menjauh, hanya hadir dengan cara yang tidak memaksa tetapi cukup untuk membuat Arga sadar bahwa ia tidak benar-benar sendiri. “Sudah kamu baca lagi?” tanyanya pelan.
Arga mengangguk tanpa menoleh. “Sudah.”
“Dan?”
Pertanyaan itu tidak meminta analisis. Ia hanya meminta kejujuran.