Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #28

YANG TERTINGGAL SELALU LEBIH LAMA

BAB 28

YANG TERTINGGAL SELALU LEBIH LAMA

 

 

Beberapa hari setelah naskah itu dikirim, rumah di Jogja kembali ke ritme yang sama seperti sebelumnya, seolah tidak ada sesuatu yang benar-benar berubah, padahal di dalam diri Arga, sesuatu telah bergeser dengan cara yang tidak bisa ia abaikan. Pagi datang dengan suara yang sama, langkah Lintang di dapur, napas Ryan yang pelan di kamar, cahaya yang masuk dari jendela dengan sudut yang hampir serupa setiap harinya, namun kini semua itu terasa seperti sesuatu yang sedang ia lihat dari jarak yang sedikit lebih jauh, bukan karena ia tidak berada di sana, melainkan karena sebagian dari dirinya telah lebih dulu berjalan ke tempat lain.

Rizal menghubunginya beberapa kali dalam dua hari pertama. Nada suaranya berubah sedikit, masih cepat, masih penuh energi, tetapi kini ada sesuatu yang lebih tajam di dalamnya, seperti seseorang yang mulai melihat bentuk dari sesuatu yang sebelumnya hanya berupa kemungkinan. Ia berbicara tentang respons awal, tentang orang-orang yang mulai tertarik, tentang bagaimana naskah itu “kena” dengan cara yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya perkirakan.

“Ini beda, Ga,” katanya dalam salah satu percakapan yang berlangsung cukup lama. “Lo tahu kan ini beda?”

Arga tidak menjawab dengan segera. Ia sedang duduk di teras kecil, memperhatikan Ryan yang dibantu Lintang berjalan pelan di halaman, satu langkah yang tidak pernah benar-benar stabil tetapi tidak lagi sepenuhnya goyah.

“Aku tahu,” katanya akhirnya.

“Bukan cuma bagus,” lanjut Rizal. “Ini punya sesuatu. Gue udah kasih ke beberapa orang, dan reaksinya sama. Mereka diam dulu, baru ngomong.”

Arga membiarkan kalimat itu lewat tanpa mencoba mengikatnya dengan perasaan tertentu. Ia tidak merasa bangga dengan cara yang sederhana. Ia juga tidak merasa lega. Lebih seperti seseorang yang melihat sesuatu yang memang sudah ia ketahui sejak awal, hanya saja kini dikatakan oleh orang lain dengan bahasa yang berbeda.

“Timeline-nya bakal kita percepat,” kata Rizal lagi. “Lo siap ya kalau nanti kita masuk ke tahap berikutnya.”

“Siap,” jawab Arga, meskipun ia tahu kata itu tidak pernah benar-benar cukup untuk menjelaskan apa pun.

Setelah telepon ditutup, ia tetap duduk di tempatnya, membiarkan suara dari halaman masuk tanpa perlu disaring. Ryan tertawa kecil ketika langkahnya berhasil bertahan sedikit lebih lama dari sebelumnya, dan Lintang tidak berkata apa-apa, hanya menahan tubuh anak itu dengan cara yang sudah menjadi bagian dari dirinya. Pemandangan itu sederhana, tetapi justru karena itu, ia terasa utuh dengan cara yang tidak bisa digantikan oleh apa pun yang sedang dibicarakan Rizal di seberang sana.

Hari-hari itu berjalan tanpa kejadian besar, tetapi justru di dalam ketiadaan itulah sesuatu mulai terasa lebih jelas. Arga mulai menyadari bahwa keberadaannya di rumah itu memiliki batas yang tidak diucapkan. Ia bisa tinggal beberapa hari, mungkin seminggu, tetapi ada sesuatu yang terus mengingatkannya bahwa ia tidak sepenuhnya berada di sana. Bukan karena Lintang menolaknya, bukan juga karena rumah itu menutup dirinya, melainkan karena hidupnya sendiri belum selesai di tempat lain.

Suatu sore, ketika langit mulai meredup dan udara Jogja sedikit lebih longgar dari panas siang, Arga duduk di ruang tengah sementara Ryan menggambar di lantai dengan posisi yang tidak sepenuhnya nyaman tetapi sudah cukup ia biasakan. Lintang sedang melipat pakaian di kursi, gerakannya rapi, tanpa tergesa, seperti semua hal yang ia lakukan.

“Kamu kapan balik?” tanya Lintang tiba-tiba, tanpa menoleh.

Pertanyaan itu datang dengan nada yang tidak menekan, tetapi justru karena itu Arga tahu bahwa kalimat itu sudah dipikirkan cukup lama sebelum diucapkan.

Lihat selengkapnya