BAB 29
YANG TUMBUH TANPA DISADARI
Beberapa hari setelah Arga kembali ke Batu, dunia di luar dirinya bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah benar-benar ia miliki, seolah sesuatu yang ia lepaskan di Jogja tidak hanya berpindah tangan, tetapi juga menemukan jalannya sendiri tanpa perlu menunggu ia siap untuk mengikutinya. Ia kembali ke rumah ibunya dengan cara yang hampir sama seperti sebelumnya, motor tua yang diparkir di tempat yang sama, pintu yang dibuka tanpa suara, ruangan yang menyambutnya dengan bau yang tidak berubah namun kali ini ia tidak sepenuhnya merasa kembali, melainkan seperti seseorang yang singgah di tempat yang pernah ia anggap sebagai pusat, tetapi kini hanya menjadi salah satu dari sekian banyak titik yang harus ia lewati.
Ibunya menyambutnya seperti biasa, tidak dengan pertanyaan panjang, hanya dengan pengamatan yang sederhana tetapi tepat.
“Sudah selesai urusannya?” tanya perempuan itu sambil menuang air.
Arga duduk di kursi yang sudah lama ia kenal. “Sudah.”
“Lama juga kamu di sana.”
“Iya.”
Ibunya mengangguk, tidak mengejar jawaban yang lebih lengkap. Ia sudah terlalu lama hidup untuk tahu bahwa beberapa hal tidak akan menjadi lebih jelas hanya dengan ditanya lebih banyak.
Di hari-hari pertama setelah ia kembali, Arga mencoba kembali ke ritme yang dulu terasa begitu akrab: bangun pagi, membuka laptop, membaca ulang bagian-bagian yang sudah ia kirim, menunggu kabar, lalu menulis hal-hal lain yang tidak selalu memiliki arah yang jelas tetapi cukup untuk membuat hari berjalan tanpa terlalu terasa kosong. Namun kini, setiap kali ia duduk di depan layar, ia tidak lagi berada di dalam pekerjaan dengan cara yang sama. Ada sesuatu yang telah terlepas, dan apa yang tersisa tidak lagi utuh seperti sebelumnya.
Kabar itu datang pada siang yang biasa, ketika Arga sedang duduk tanpa benar-benar menulis apa pun, hanya menatap halaman kosong yang tidak lagi menakutkan tetapi juga tidak sepenuhnya mengundang. Ponselnya bergetar, nama Rizal muncul, dan entah mengapa, sebelum mengangkat, Arga sudah tahu bahwa sesuatu telah bergerak lebih jauh dari yang ia bayangkan.
“Ga,” suara di seberang langsung terdengar berbeda, bukan hanya cepat, tetapi juga mengandung sesuatu yang sulit disembunyikan, “ini udah naik.”
Arga tidak langsung bertanya. Ia hanya mendengarkan.
“Penerbit fix ambil. Bukan yang kecil, yang kita bahas kemarin itu. Mereka mau gas cepat. Dan…” Rizal berhenti sebentar, seperti ingin memberi ruang bagi kalimat berikutnya, “…PH itu, mereka serius.”
Arga menatap ke depan, pada ruang yang tidak berubah apa pun sejak pagi. “Seberapa serius?”