BAB 30
NAMA YANG DITEMPATKAN DI TEMPAT YANG TERANG
Beberapa minggu setelah kabar itu datang, segala sesuatu bergerak lebih cepat daripada yang bisa diikuti Arga dengan tenang, seolah dunia di luar sana telah menemukan sesuatu yang layak untuk didorong tanpa perlu menunggu orang yang membuatnya siap berjalan bersama. Ia mulai melihatnya bukan dari cerita Rizal, melainkan dari tempat-tempat yang tidak ia cari secara khusus, potongan video, unggahan media sosial, nama yang berulang di berbagai ruang yang sebelumnya tidak pernah ia masuki dengan serius.
Sampul buku itu akhirnya muncul. Bukan lagi dalam bentuk desain awal, tetapi sebagai sesuatu yang utuh, siap dilihat, siap dipegang, siap dibicarakan.
Arga melihatnya pertama kali di layar ponselnya, saat sedang duduk di teras rumah ibunya, sore yang tidak terlalu panas tetapi cukup untuk membuat udara terasa berat di kulit. Ia tidak langsung menyadari apa yang ia lihat. Ia membaca judulnya, lalu nama yang tercantum di bawahnya, dan di sanalah ia berhenti, bukan karena terkejut dalam arti yang keras, melainkan karena ada sesuatu yang terasa begitu tepat sekaligus begitu jauh.
Ia memperbesar gambar itu. Melihat pilihan warna. Melihat komposisi. Melihat bagaimana cerita itu kini memiliki wajah yang bisa dikenali orang lain. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa apa yang selama ini ia tulis di ruang sempit dengan cahaya laptop yang tidak pernah cukup terang kini telah menjadi sesuatu yang berdiri sendiri, tidak lagi membutuhkan dirinya untuk ada.
Ponselnya bergetar. Rizal.
“Keren kan?” suara itu langsung terdengar ringan, hampir bangga. “Udah mulai kita push. Pre-order juga dibuka minggu ini.”
Arga tidak menjawab dengan cepat. Ia masih melihat gambar itu, mencoba memahami perasaan yang tidak datang dalam satu bentuk.
“Iya,” katanya akhirnya.
“Respons awal bagus banget, Ga. Bahkan sebelum rilis, udah ada yang ngomong ini bakal jadi sesuatu.”
Arga mengangguk, meskipun tidak terlihat. “Bagus.”
“Dan lo santai aja ya. Nama yang di depan itu memang lebih jual. Tapi lo tahu kan ini semua dari mana.”
Kalimat itu tidak dimaksudkan untuk menyakiti.