Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #31

YANG TIDAK PERNAH DIMINTA UNTUK DIAKUI

BAB 31

YANG TIDAK PERNAH DIMINTA UNTUK DIAKUI

 

 

Hari-hari setelah kemunculan buku itu tidak datang dengan peristiwa besar yang bisa ditunjuk sebagai perubahan, tetapi justru bergerak dalam cara yang lebih halus, lebih sulit ditangkap, seperti air yang perlahan naik tanpa suara sampai seseorang baru menyadarinya ketika ia sudah terlalu dalam untuk kembali dengan mudah. Arga tidak membeli buku itu, tidak mencarinya di toko, tidak juga secara sengaja membuka halaman-halaman yang kini telah dibaca orang lain dengan nama yang bukan miliknya, tetapi dunia memiliki cara sendiri untuk mempertemukan seseorang dengan hal-hal yang sebenarnya ingin ia hindari.

Ia melihatnya di tangan orang lain.

Di sebuah kafe kecil di Malang, saat ia duduk sendirian dengan secangkir kopi yang sudah dingin sebelum sempat ia nikmati, seorang perempuan di meja sebelah membolak-balik halaman buku itu dengan perhatian yang tidak dibuat-buat. Ia tidak membaca cepat, tidak juga sekadar melihat-lihat, melainkan masuk ke dalamnya dengan cara yang membuat Arga, tanpa perlu melihat lebih dekat, tahu bagian mana yang sedang dibaca. Ada jeda-jeda kecil ketika perempuan itu berhenti, menatap halaman lebih lama, lalu menarik napas sebelum melanjutkan. Arga mengenali ritme itu bukan sebagai pembaca, tetapi sebagai seseorang yang pernah menulis bagian-bagian yang memaksa orang berhenti tanpa mereka sadari.

Ia tidak berpaling. Ia juga tidak mendekat. Ia hanya duduk, membiarkan dirinya berada di antara dua kemungkinan yang sama-sama tidak ia pilih: melihat lebih jelas atau pura-pura tidak tahu.

Di suatu titik, perempuan itu menutup bukunya sebentar, menatap temannya yang duduk di depannya, lalu berkata dengan suara yang cukup pelan tetapi tetap sampai ke telinga Arga, “Ini dalem banget. Kayak… bukan sekadar cerita.”

Temannya mengangguk. “Iya, aku juga ngerasa gitu. Kayak penulisnya ngalamin sendiri.”

Arga menunduk, memandang permukaan meja yang penuh goresan kecil yang mungkin tidak pernah diperhatikan oleh siapa pun yang duduk di sana sebelumnya. Kalimat itu lewat begitu saja, tanpa arah, tanpa tahu kepada siapa ia sebenarnya kembali. Ia tidak merasa perlu membenarkan. Ia juga tidak merasa perlu menyangkal. Ia hanya merasakan sesuatu yang tidak lagi bisa ia sebut sebagai kehilangan, melainkan seperti sesuatu yang memang sejak awal tidak pernah dimaksudkan untuk kembali kepadanya.

Ketika ia pulang sore itu, ibunya sedang duduk di depan televisi yang menyala tanpa suara. Perempuan tua itu menoleh sebentar, lalu kembali melihat layar, tetapi tidak lama kemudian berkata, “Itu buku yang kamu ceritakan dulu, sudah keluar ya?”

Arga berhenti di ambang pintu. “Iya.”

“Ibu lihat di berita tadi. Penulisnya wawancara.”

Arga tidak menjawab.

Ibunya menatapnya lagi, kali ini lebih lama. “Bagus, katanya.”

Lihat selengkapnya