BAB 32
YANG TIDAK BISA LAGI DITUNDA
Perubahan itu tidak datang sebagai sesuatu yang meledak atau memaksa untuk diakui dalam satu kejadian yang jelas, melainkan tumbuh perlahan di dalam keseharian Arga, menyusup ke dalam hal-hal yang sebelumnya terasa biasa, sampai pada suatu titik ia menyadari bahwa yang sedang ia jalani bukan lagi rutinitas yang bisa ia kendalikan, tetapi sebuah arah yang telah bergerak tanpa menunggu keputusannya. Ia tetap bangun pagi, tetap membuka laptop, tetap duduk di ruang yang sama dengan cahaya yang sama, namun kini setiap hal yang ia lakukan terasa seperti sesuatu yang memiliki konsekuensi yang lebih besar dari sekadar hari itu sendiri.
Kabar tentang buku itu tidak lagi berhenti pada lingkaran kecil. Ia mulai muncul di tempat-tempat yang tidak bisa ia hindari, di percakapan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya, di rak-rak toko buku yang dulu hanya ia datangi sebagai pembaca, dan kini menjadi ruang di mana sesuatu yang ia tulis berdiri tanpa dirinya. Ia tidak pernah secara sengaja datang untuk melihatnya, tetapi suatu sore, tanpa rencana yang jelas, langkahnya membawanya ke sebuah toko buku di pusat kota Malang, bukan karena ia ingin memastikan sesuatu, melainkan karena ia tidak lagi bisa sepenuhnya menghindar dari kenyataan yang telah berjalan.
Ia berdiri cukup lama di depan rak yang memajang buku itu. Tidak ada yang mengenalnya, tidak ada yang memperhatikan, dan justru dalam anonimitas itulah ia merasa paling dekat dengan apa yang sedang ia hadapi. Ia mengambil satu eksemplar, merasakan beratnya di tangan, membuka beberapa halaman secara acak, dan membaca potongan-potongan yang begitu ia kenali hingga terasa seperti membaca kembali bagian dari dirinya sendiri yang telah dipisahkan dari tubuhnya.
Seorang pengunjung di sampingnya berkata kepada temannya, “Ini lagi rame banget. Katanya wajib baca.”
Temannya mengangguk. “Aku lihat review-nya juga bagus semua.”
Arga menutup buku itu pelan, mengembalikannya ke tempat semula, lalu melangkah menjauh tanpa terburu-buru, seperti seseorang yang baru saja memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia tahu sejak awal. Ia tidak merasa perlu membeli buku itu. Ia juga tidak merasa kehilangan karena tidak memilikinya. Yang ia rasakan justru sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih berat: bahwa apa yang ia lepaskan kini benar-benar hidup di luar dirinya, dan tidak ada lagi bagian dari proses itu yang bisa ia sentuh tanpa menjadi orang lain.
Di malam hari, ia menerima panggilan dari Rizal yang nadanya kali ini tidak lagi sekadar antusias, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih konkret.
“Ga, kita masuk tahap berikutnya,” katanya tanpa banyak pengantar. “Filmnya jalan. Ini serius. Mereka udah mulai ngomongin casting.”
Arga duduk di kursi yang sama seperti malam-malam sebelumnya, tetapi kini kalimat itu terasa seperti sesuatu yang menarik garis lebih jauh dari yang ia bayangkan.
“Cepat juga,” katanya.
“Ini momentum,” jawab Rizal. “Kalau kita enggak kejar sekarang, lewat. Dan ini… ini bukan proyek biasa.”
Arga tidak membantah.
Ia tahu itu.
“Lo santai aja, gue yang handle teknisnya. Lo tinggal nikmatin aja hasilnya,” lanjut Rizal, lalu berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang sedikit lebih rendah, “dan ya, posisi lo tetap sama. Kita enggak bisa ubah itu sekarang.”
Kalimat itu tidak mengejutkan.
Namun kali ini, Arga tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke ruang di depannya, ke dinding yang tidak berubah, ke bayangan dirinya sendiri yang samar di permukaan jendela.
“Zal,” katanya pelan.
“Iya?”