Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #33

KEPULANGAN YANG TIDAK MENGHAPUS APA PUN

BAB 33

KEPULANGAN YANG TIDAK MENGHAPUS APA PUN

 

 

Arga tiba di Jogja menjelang sore, ketika cahaya mulai turun perlahan dan jalanan tidak lagi seterang siang, tetapi belum sepenuhnya menjadi malam, sebuah waktu yang sering membuat segala sesuatu tampak lebih lembut dari yang sebenarnya. Perjalanan dari Batu terasa lebih panjang dari biasanya, bukan karena jaraknya bertambah, melainkan karena pikirannya tidak pernah benar-benar diam sepanjang jalan, berpindah dari satu bayangan ke bayangan lain tanpa pernah menetap cukup lama untuk disebut sebagai keputusan.

Motor tuanya berhenti di depan rumah yang sudah ia kenal dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh ingatan saja. Ia tidak langsung turun. Mesin masih menyala beberapa detik, getarannya halus, seperti sesuatu yang belum sepenuhnya siap untuk berhenti. Di dalam rumah, tidak ada suara yang langsung terdengar. Pintu tertutup, jendela setengah terbuka, tirai bergerak sedikit tertiup angin sore.

Ia mematikan mesin. Sunyi datang dengan segera.

Arga duduk sejenak, tangannya masih di setang, matanya melihat ke arah pintu, seolah-olah ada jarak kecil yang harus ia lewati bukan dengan langkah, tetapi dengan sesuatu yang tidak kasatmata. Ia pernah datang ke rumah ini berkali-kali, pernah merasa menjadi bagian darinya, pernah juga merasa asing di dalamnya, dan kini, untuk pertama kalinya, ia merasakan keduanya sekaligus tanpa bisa memilih salah satu.

Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk.

Lintang berdiri di sana.

Wajahnya tidak berubah banyak, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia melihat Arga, bukan lebih dingin, bukan juga lebih hangat, melainkan lebih tenang dengan cara yang tidak lagi mencari kepastian.

“Mas,” katanya pelan.

Arga mengangguk. “Iya.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada jarak yang diperbesar. Hanya pertemuan yang berlangsung apa adanya, tanpa tambahan yang tidak perlu.

“Kamu capek?” tanya Lintang sambil sedikit membuka pintu lebih lebar.

“Biasa saja.”

Lintang mengangguk, memberi jalan.

Arga masuk.

Bau rumah itu masih sama, campuran dari sesuatu yang dimasak, kayu yang sudah lama, dan udara yang menyimpan kehidupan sehari-hari tanpa perlu dijelaskan. Ia meletakkan tasnya di kursi, melepas jaket, dan untuk beberapa detik hanya berdiri tanpa melakukan apa pun, seperti seseorang yang sedang menyesuaikan diri dengan ruang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Dari kamar, suara kecil terdengar.

“Papa?”

Arga menoleh.

Ryan muncul di ambang pintu kamar, duduk di kursinya, matanya langsung menemukan Arga dengan cara yang tidak pernah berubah. Ada jeda sangat singkat sebelum wajahnya berubah, bukan menjadi sesuatu yang berlebihan, tetapi cukup untuk membuat Arga merasakan sesuatu yang selama ini selalu ia lewatkan.

“Papa pulang?” tanya Ryan.

Arga berjalan mendekat.

“Iya.”

Ryan tersenyum.

Tidak lebar. Tidak juga kecil. Tepat.

Seolah itu adalah ukuran yang pas untuk sesuatu yang sudah lama ia tunggu tanpa pernah ia paksa menjadi lebih besar dari yang ia mampu.

Lihat selengkapnya