Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #34

YANG DICOBA UNTUK DIPERTAHANKAN

BAB 34

YANG DICOBA UNTUK DIPERTAHANKAN

 

 

Hari-hari setelah kepulangan Arga berjalan dengan ritme yang pelan, hampir seperti sesuatu yang sengaja menahan diri agar tidak berubah terlalu cepat, seolah rumah itu sendiri memahami bahwa apa yang sedang dibangun di dalamnya tidak bisa dipaksakan menjadi utuh dalam waktu singkat. Pagi datang dengan suara yang sama, Lintang di dapur, air yang dipanaskan, piring yang saling bersentuhan pelan, dan Ryan yang dibantu bangun dengan kesabaran yang tidak pernah benar-benar diperlihatkan sebagai usaha, melainkan sebagai bagian dari hidup yang sudah diterima sepenuhnya.

Arga mulai mengisi ruang itu dengan cara yang tidak berisik, seolah ia sedang belajar kembali bagaimana menjadi bagian tanpa harus mengambil terlalu banyak tempat. Ia bangun lebih awal, melakukan hal-hal kecil yang dulu sering ia lewati tanpa sadar, mengambilkan air, merapikan sesuatu yang sebenarnya sudah rapi, atau sekadar duduk di dekat Ryan ketika anak itu bersiap menjalani hari yang selalu menuntut lebih banyak tenaga dari yang terlihat. Tidak ada yang secara terbuka menyebut itu sebagai perubahan, tetapi kehadirannya kini tidak lagi terasa seperti kunjungan yang sementara.

Suatu pagi, ketika cahaya masuk dari jendela dengan sudut yang membuat bayangan bergerak pelan di lantai, Arga duduk di samping Ryan yang sedang berusaha memegang sendok dengan cara yang tidak mudah. Gerakan itu lambat, tidak selalu berhasil, tetapi setiap percobaan membawa sesuatu yang tidak bisa disebut sebagai kegagalan.

“Pelan saja,” kata Arga.

Ryan tidak menoleh. “Aku tahu.”

Nada itu tidak keras, tetapi juga tidak meminta bantuan.

Arga tidak memperbaikinya.

Ia hanya melihat, membiarkan proses itu berjalan tanpa ia potong, dan untuk pertama kalinya ia memahami bahwa membantu tidak selalu berarti membuat sesuatu menjadi lebih cepat, kadang justru berarti membiarkannya berlangsung sebagaimana mestinya.

Sendok itu jatuh sekali. Ryan berhenti sebentar. Lalu mencoba lagi.

Lintang memperhatikan dari dapur tanpa mengatakan apa pun. Ada sesuatu dalam cara Arga duduk di sana, tidak tergesa, tidak mengambil alih, yang berbeda dari sebelumnya, dan perbedaan itu tidak ia sebutkan, seolah jika diucapkan, sesuatu yang baru saja tumbuh itu bisa berubah bentuk sebelum sempat menguat.

Menjelang siang, rumah menjadi lebih sunyi. Ryan beristirahat di kamar, Lintang kembali pada pekerjaan kecil yang tidak pernah benar-benar selesai, dan Arga duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka, mencoba kembali ke sesuatu yang selama ini ia anggap sebagai pusat hidupnya. Namun kali ini, kata-kata tidak datang dengan cara yang sama. Ia menulis beberapa kalimat, menghapusnya, lalu berhenti bukan karena ia tidak tahu harus menulis apa, melainkan karena ia tidak lagi yakin untuk siapa ia menulis.

Ponselnya bergetar.

Rizal.

Arga melihat nama itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat, seolah memberi dirinya waktu untuk tetap berada di ruang ini sedikit lebih lama sebelum sesuatu dari luar masuk dan mengubah arahnya.

“Ga, kita ketemu,” suara Rizal langsung terdengar cepat, seperti biasa, tetapi kali ini ada sesuatu yang lebih terarah di dalamnya. “Tim dari Jakarta sudah siap. Mereka mau ngobrol langsung soal filmnya.”

Arga tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah kamar, lalu ke dapur, memastikan tanpa benar-benar ingin memastikan bahwa semua masih berada di tempatnya.

“Di mana?” tanyanya.

“Surabaya. Tapi bisa juga di Malang kalau lo lebih gampang. Mereka fleksibel. Ini bukan meeting biasa, Ga,” suara Rizal sedikit merendah, “mereka mau lo ikut di pengembangan skenario.”

Arga diam beberapa detik.

“Sebagai apa?” tanyanya.

“Tim penulis. Bukan utama,” jawab Rizal jujur, “tapi lo masuk. Resmi.”

Kalimat itu tidak besar. Namun cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Arga bergerak.

Lihat selengkapnya