Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #35

YANG TIDAK LAGI DITANYAKAN

BAB 35

YANG TIDAK LAGI DITANYAKAN

 

Lintang tidak lagi menghitung hari sejak Arga datang dan tinggal lebih lama di rumah itu, tetapi tubuhnya mengenali perubahan dengan cara yang tidak membutuhkan angka. Ada sesuatu yang bergeser dalam ritme, bukan pada hal-hal besar yang bisa disebutkan dengan mudah, melainkan pada bagian-bagian kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan, cara Arga duduk lebih lama di dekat Ryan, cara ia menunggu tanpa tergesa, cara ia tidak lagi segera kembali ke dunia yang selama ini menjadi tempatnya bersembunyi.

Perubahan semacam itu tidak datang sebagai kebahagiaan. Ia datang sebagai sesuatu yang harus diterima dengan hati-hati. Seperti memegang benda yang retak.

Lintang menjalani hari seperti biasa. Ia bangun, menyiapkan sarapan, membantu Ryan bangun, dan menyusun kembali dunia kecil mereka ke dalam urutan yang bisa dijalani. Tidak ada yang berubah dari luar, tetapi di dalam dirinya, ia mulai menyadari sesuatu yang tidak ia beri nama: bahwa kehadiran Arga tidak lagi bisa ia anggap sebagai sesuatu yang sementara. Dan justru karena itu, ia tidak lagi merasa tenang.

Pagi itu, setelah Ryan selesai makan, Arga duduk di lantai di dekatnya, memperhatikan anak itu yang sedang mencoba menggambar dengan tangan yang tidak sepenuhnya patuh. Garisnya tidak lurus, bentuknya tidak jelas, tetapi Arga tidak memperbaiki, tidak mengarahkan, hanya melihat dengan kesabaran yang tidak dibuat-buat.

“Aku lagi gambar,” kata Ryan.

“Apa?” tanya Arga.

Ryan berhenti sebentar, seperti mencari kata yang tepat.

“Papa,” jawabnya.

Arga tersenyum kecil. “Papa?”

Ryan mengangguk.

Lintang melihat dari dapur. Ia tidak ikut masuk ke percakapan itu. Namun untuk beberapa detik, ada sesuatu yang terasa asing sekaligus akrab, sebuah kemungkinan tentang keluarga yang berjalan dengan bentuk yang selama ini tidak pernah benar-benar mereka miliki. Dan justru di situlah sesuatu di dalam dirinya menegang. Bukan karena ia tidak menginginkannya. Tetapi karena ia tahu, sesuatu yang datang perlahan sering kali pergi dengan cara yang sama, tanpa tanda yang cukup jelas untuk dicegah.

Siang hari datang dengan panas yang biasa, tetapi Lintang merasa tubuhnya sedikit lebih lelah dari biasanya. Ia duduk sebentar di kursi ruang tengah, memperhatikan Arga yang kini membuka laptop, mencoba kembali menulis, sementara Ryan tertidur di kamar.

Tidak ada percakapan di antara mereka. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Namun keheningan itu tidak lagi netral.

Lintang akhirnya bertanya, tanpa melihat langsung,

“Mas jadi ambil kerjaan itu?”

Lihat selengkapnya