BAB 36
YANG TIDAK PERNAH PERGI
Pagi itu datang dengan cahaya yang jernih, yang mula-mula hanya menempel di tepi kusen jendela lalu perlahan masuk ke dalam rumah, membuat benda-benda di ruang tengah tampak sedikit lebih tegas daripada malam sebelumnya. Tidak ada yang istimewa dari pagi itu jika dilihat dari luar. Di dapur, Lintang sudah lebih dulu bangun dan menyiapkan sarapan dengan gerakan-gerakan yang tidak pernah berlebihan, sementara dari kamar terdengar Ryan yang masih setengah terjaga, suaranya kecil, belum sepenuhnya masuk ke dalam hari. Namun justru karena semuanya tampak biasa, Arga merasakan pagi itu lebih berat dari yang seharusnya, seolah ada sesuatu yang diam-diam berdiri di belakang setiap hal kecil yang ia lihat.
Ia tidak langsung ikut masuk ke dalam ritme rumah. Untuk beberapa saat ia hanya berdiri di ruang depan, melihat ke arah pintu, mendengarkan suara piring dari dapur, langkah pelan dari lorong, dan sesuatu di dalam dirinya yang tidak benar-benar bisa disebut ragu, tetapi juga tidak sepenuhnya tenang. Setelah itu ia membuka pintu dan melangkah ke luar tanpa mengatakan apa-apa.
Udara pagi Jogja masih menyimpan sisa kesejukan malam, meskipun tidak setajam dingin di Batu. Halaman kecil di depan rumah itu tampak seperti biasa, pagar yang sedikit kusam, pot-pot tanaman yang tidak semuanya terurus dengan sama baik, dan di sisi dekat tembok, motor tua itu berdiri dengan kesunyian yang hampir menyamai benda-benda lama yang sudah terlalu lama tinggal di satu tempat. Binter Merzy itu, Kawasaki KZ200 keluaran tahun delapan puluhan, sudah tidak lagi menyimpan kilap apa pun. Catnya memudar, logamnya kusam di beberapa bagian, dan suara mesinnya, ketika nanti dinyalakan, tidak akan pernah terdengar sehalus motor-motor baru yang lewat di jalan besar. Namun justru di situlah letaknya. Motor itu tidak pernah dimiliki Arga sebagai benda yang netral. Ia datang dari ayahnya, dan seperti banyak hal lain yang ditinggalkan laki-laki itu, kehadirannya lebih terasa sebagai warisan yang tak pernah dijelaskan daripada kenangan yang benar-benar dibagikan.
Arga mendekat, menyentuh setangnya dengan tangan yang tidak tergesa, seolah ia sedang memastikan sesuatu yang lama masih benar-benar ada. Ia tidak punya banyak benda yang bisa membuatnya mengingat ayahnya dengan bentuk yang konkret, dan mungkin justru karena itulah motor ini tetap ia pertahankan, meskipun merawatnya selalu terasa lebih seperti kewajiban samar daripada kecintaan yang jelas. Ayahnya tidak pernah bercerita panjang tentang motor itu. Tidak ada satu sore hangat yang penuh nasihat, tidak ada perjalanan berdua yang kemudian tumbuh menjadi nostalgia. Yang ada hanya benda itu sendiri, tetap tinggal setelah laki-laki itu pergi, seperti kalimat yang belum selesai tetapi tak akan pernah dilanjutkan.
Ia menyalakan mesin. Suaranya muncul kasar di awal, kemudian perlahan menemukan ritmenya sendiri. Arga tidak langsung menaikinya. Ia hanya berdiri di samping, mendengarkan suara mesin itu hidup di udara pagi, dan dalam bunyi yang sederhana itu ia merasakan sesuatu yang aneh: bahwa ada bagian dari hidupnya yang tak pernah benar-benar pergi, bukan karena ia memeliharanya dengan cinta, melainkan karena ia belum pernah sanggup melepaskannya.
Di dalam rumah, Lintang melihat dari balik jendela dapur. Ia tidak keluar. Ia hanya memperhatikan sosok Arga yang berdiri dekat motor tua itu, dan untuk pertama kalinya ia menyadari ada wilayah-wilayah di dalam diri laki-laki itu yang selama ini tidak pernah benar-benar bisa ia masuki. Bukan karena Arga sengaja menutupnya, melainkan karena beberapa bagian dari seseorang memang dibentuk di tempat-tempat yang terlalu tua dan terlalu sunyi untuk dibagi begitu saja.
Ryan keluar beberapa menit kemudian, didorong perlahan dari kamar menuju ruang tengah. Matanya langsung tertarik ke arah halaman.
“Papa di luar?” tanyanya.
Lintang mengangguk. “Iya.”
Ryan melihat ke sana lebih lama. “Itu motor papa?”
“Iya.”
“Dari dulu?”
Lintang berhenti sebentar sebelum menjawab. “Dari lama.”
Ryan memicingkan mata sedikit, menatap kendaraan itu dengan perhatian yang khas anak-anak ketika mereka mencoba memberi arti pada sesuatu yang bagi orang dewasa sudah terlalu biasa. “Motor itu tua ya.”
Lintang mengangguk. “Iya.”