BAB 37
JALAN YANG TIDAK PERNAH BERTANYA
Arga tidak terburu-buru ketika keluar dari Jogja, bukan karena ia ingin menunda, melainkan karena ia tidak lagi merasa perlu mempercepat sesuatu yang pada akhirnya tetap akan sampai ke tempatnya sendiri. Jalanan pagi sudah mulai terisi, tetapi belum padat, kendaraan bergerak dalam ritme yang masih memberi ruang bagi siapa pun untuk tidak tergesa, dan di atas motor tuanya, ia melaju dengan kecepatan yang cukup untuk terus berjalan tanpa merasa harus mendahului siapa pun.
Binter Merzy itu bergetar halus di bawahnya, suara mesinnya tidak pernah benar-benar rata, seperti sesuatu yang tidak pernah dimaksudkan untuk sempurna sejak awal, tetapi justru karena itu ia terasa lebih jujur. Arga tidak pernah menganggap motor ini sebagai sesuatu yang harus ia banggakan, namun ia juga tidak pernah menggantinya, seolah ada bagian dari dirinya yang diam-diam memahami bahwa tidak semua hal harus diperbarui hanya karena dunia di luar terus bergerak ke depan.
Udara pagi perlahan berubah, dari sejuk yang tipis menjadi hangat yang tidak bisa ditolak, dan jalan mulai memanjang tanpa banyak gangguan. Rumah-rumah berganti menjadi toko, toko berganti menjadi sawah, dan kota perlahan melepaskan dirinya dari apa pun yang semula tampak penting. Arga tidak menyalakan musik, tidak membuka ponsel, tidak mencoba mengisi perjalanan itu dengan sesuatu yang lain. Ia membiarkan suara mesin dan angin menjadi satu-satunya hal yang menemaninya, dan dalam kesederhanaan itu, pikirannya tidak benar-benar diam, tetapi juga tidak bergerak dengan cara yang bisa ia sebut sebagai memikirkan sesuatu secara sengaja.
Ia hanya mengingat. Bukan satu peristiwa atau satu momen tertentu. Melainkan serpihan-serpihan yang muncul tanpa urutan yang jelas, seperti sesuatu yang selama ini ada di dalam dirinya, tetapi baru sekarang menemukan ruang untuk muncul tanpa harus disusun menjadi cerita yang utuh. Wajah Lintang di ambang pintu, Ryan yang berkata “sebentar itu lama,” tangan kecil yang mencoba menggambar sesuatu yang belum selesai, suara ibunya di masa lalu yang memanggil dari dapur, dan di antara semua itu, sosok ayahnya yang tidak pernah benar-benar hadir sebagai kenangan yang lengkap, hanya sebagai bayangan yang terpotong-potong.