Jalan mulai berubah ketika Arga meninggalkan wilayah yang masih menyimpan sisa-sisa kota, memasuki bentangan yang lebih terbuka, di mana langit terasa lebih luas dan suara kendaraan tidak lagi menumpuk menjadi satu. Truk-truk besar melintas dengan ritme yang berat, membawa sesuatu yang tidak pernah ia ketahui, dan di antara mereka, motor tua itu tetap berjalan dengan cara yang sama, tidak mencoba bersaing, tidak juga tertinggal, hanya menjaga lajunya sendiri.
Ia sudah cukup jauh dari Jogja. Cukup jauh untuk tidak lagi merasa dekat. Namun belum cukup jauh untuk benar-benar sampai.
Di titik semacam itu, waktu tidak terasa sebagai sesuatu yang bergerak ke depan, melainkan seperti mengambang, tidak jelas apakah ia sedang mendekati sesuatu atau justru menjauh dari apa yang baru saja ia tinggalkan.
Arga tidak lagi mencoba mengingat.
Yang muncul kini bukan serpihan masa lalu, melainkan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berat: kesadaran tentang dirinya sendiri, yang datang tanpa perlu dibentuk menjadi kalimat.
Ia memikirkan Lintang.
Bukan sebagai seseorang yang harus ia pahami, bukan juga sebagai seseorang yang pernah ia kecewakan, melainkan sebagai seseorang yang selama ini berdiri di tempat yang sama, sementara ia terus bergerak tanpa benar-benar memutuskan ke mana. Ada kesetiaan yang tidak pernah ia minta, tetapi tetap diberikan. Ada jarak yang tidak pernah mereka sepakati, tetapi tumbuh dengan sendirinya.