BAB 39
DI ANTARA DETIK YANG TIDAK KEMBALI
Jalan itu tidak berubah secara tiba-tiba. Ia tetap sama seperti beberapa kilometer sebelumnya, garis aspal yang memanjang, kendaraan yang datang dan pergi tanpa saling mengenal, panas yang mulai menekan pelan dari atas, dan angin yang tidak lagi sedingin pagi. Jika ada yang melihat dari jauh, tidak ada satu pun yang bisa disebut sebagai pertanda. Semua berjalan sebagaimana mestinya, seperti hari-hari lain yang tidak pernah dicatat sebagai sesuatu yang berbeda.
Arga melaju dengan kecepatan yang masih ia jaga. Tidak terlalu cepat, tidak juga terlalu lambat. Di hadapannya, sebuah kendaraan besar bergerak dengan ritme berat, sementara dari arah berlawanan, beberapa kendaraan lain datang dengan jarak yang tidak selalu teratur. Ia memperhatikan, menimbang, lalu tetap berada di lajurnya.
Tidak ada keputusan besar. Hanya kelanjutan dari gerakan sebelumnya.
Di dalam dirinya, tidak ada kepanikan. Tidak juga ketegangan yang bisa ia kenali sebagai sesuatu yang luar biasa. Justru yang ia rasakan adalah sesuatu yang hampir menyerupai kejernihan, seperti ketika semua hal yang sebelumnya terasa rumit tiba-tiba menjadi sederhana tanpa perlu dijelaskan.
Lintang.