BAB 40
KABAR YANG TIDAK PUNYA BENTUK
Pagi di Jogja berjalan seperti pagi-pagi yang lain, tanpa tanda yang bisa disebut sebagai awal dari sesuatu yang berbeda. Cahaya masuk dari jendela dengan cara yang sudah terlalu akrab, menempel di lantai, merambat ke dinding, dan berhenti di benda-benda yang tidak pernah berubah tempat. Di dapur, Lintang berdiri dengan gerakan yang sama seperti hari-hari sebelumnya, menyalakan kompor, memanaskan air, menyiapkan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pikirkan sebagai kegiatan, melainkan sebagai bagian dari urutan yang harus dijalani.
Ryan sudah bangun lebih dulu hari itu.
Ia duduk di kursinya di dekat jendela, memandangi luar dengan perhatian yang tidak sepenuhnya tertuju pada satu hal, seperti seseorang yang sedang menunggu tanpa tahu apa yang ditunggu. Tangannya memegang pensil, tetapi belum menggambar apa pun.
“Papa sudah sampai?” tanyanya tiba-tiba.
Lintang yang sedang menuang air berhenti sebentar. Belum ada waktu yang cukup berlalu untuk benar-benar disebut “sampai”. Namun juga tidak ada kepastian yang bisa ia pegang.
“Belum,” jawabnya pelan.
Ryan mengangguk, menerima jawaban itu tanpa bertanya lebih jauh, tetapi matanya tetap ke luar, seolah ada sesuatu yang ia coba dengarkan dari kejauhan.
Pagi berjalan. Sarapan disiapkan. Ryan makan dengan perlahan, seperti biasa, setiap gerakan membutuhkan waktu yang tidak bisa dipercepat. Lintang membantu di bagian-bagian yang perlu, tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Di antara semua itu, tidak ada yang terasa ganjil, tetapi ada sesuatu yang tidak sepenuhnya berada di tempatnya, seperti sebuah bunyi yang terlalu halus untuk disebut sebagai gangguan, tetapi cukup untuk membuat keheningan terasa berbeda.
Sekitar tengah hari, ketika panas mulai masuk lebih dalam ke dalam rumah, ponsel Lintang bergetar di atas meja. Ia tidak langsung mengambilnya. Bukan karena ia tidak mau, tetapi karena tidak ada alasan untuk terburu-buru.
Getaran itu berhenti. Lalu beberapa detik kemudian, kembali. Lintang melangkah mendekat, melihat layar tanpa benar-benar berharap menemukan sesuatu yang penting.
Nomor yang tidak dikenal. Ia mengangkat.
“Iya?”
Tidak ada jawaban langsung. Hanya suara napas di seberang, lalu seseorang yang seperti sedang mencari cara untuk memulai.
“Dengan… Mbak Lintang?”
Lintang tidak langsung merasa apa pun.
“Iya.”
“Ada… keluarga Mas Arga?”
Kalimat itu tidak jelas, tetapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya berhenti bergerak.
“Ada apa?”
Suara di seberang sedikit berubah, seperti seseorang yang harus memilih kata dengan hati-hati.
“Ini dari…,” ia menyebutkan sebuah tempat yang tidak langsung Lintang kenali, “di daerah Mantingan, Ngawi…”