BAB 41
YANG TIDAK BISA DIKEMBALIKAN
Perjalanan menuju Mantingan tidak terasa sebagai perjalanan dalam arti yang biasa. Jalan yang mereka lalui tetap sama seperti yang pernah dilalui banyak orang, aspal yang memanjang, kendaraan yang lewat dengan tujuan masing-masing, warung-warung kecil di pinggir jalan yang tidak pernah tahu siapa yang sedang lewat di depannya, tetapi bagi Lintang, semua itu kehilangan bentuknya sebagai sesuatu yang bisa dikenali. Ia duduk di kursi penumpang, memandang ke depan tanpa benar-benar melihat, seorang ibu di sampingnya sesekali mengatakan sesuatu kepada sopir, memastikan arah, memastikan tidak salah jalan, memastikan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa benar-benar dipastikan.
Lintang tidak banyak bertanya. Ia tidak mencoba membayangkan apa yang akan ia temui. Ia hanya menjaga dirinya tetap berada di dalam satu garis yang bisa ia ikuti, tanpa membiarkan pikirannya berjalan terlalu jauh ke tempat yang tidak bisa ia tanggung.
Nama tempat itu disebutkan beberapa kali. Mantingan. Ngawi. Rumah sakit daerah. Semua terdengar seperti informasi. Belum menjadi kenyataan.
Lintang sampai ketika siang sudah lewat sedikit, matahari tidak lagi tepat di atas kepala tetapi masih cukup terang untuk membuat bayangan jatuh dengan jelas. Bangunan rumah sakit itu tidak besar, catnya tidak sepenuhnya baru, dan halaman depannya dipenuhi kendaraan yang tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk membuat suasana terasa hidup dengan cara yang biasa.
Tidak ada yang menyambut secara khusus. Tidak ada yang menunggu mereka dengan wajah yang sudah tahu. Mereka masuk seperti orang lain yang datang dengan urusan masing-masing.
Di dalam, udara terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih datar. Seperti semua suara yang masuk harus ditahan agar tidak terlalu keras.
Lintang berdiri di dekat meja informasi. Ia menyebut nama itu.
“Arga.”
Petugas itu melihat daftar. Menelusuri sesuatu dengan jari.
Lalu menoleh.
“Dari kecelakaan tadi?”
Lintang mengangguk.