BAB 42
YANG TERTINGGAL TANPA SUARA
Perjalanan pulang dari Mantingan tidak terasa sebagai perjalanan yang membawa mereka kembali, melainkan seperti perpindahan yang tidak memiliki arah yang benar-benar bisa disebut pulang. Jalan yang mereka lalui sama seperti sebelumnya, aspal yang memanjang, kendaraan yang melintas dengan tujuan masing-masing, warung-warung kecil yang berdiri tanpa mengetahui apa yang sedang dibawa oleh orang-orang yang berhenti di depannya, namun bagi Lintang, semua itu kehilangan sifatnya sebagai sesuatu yang dapat dikenali. Ia duduk diam, tubuhnya menghadap ke depan, sementara pandangannya tidak benar-benar menangkap apa pun, seolah dunia di luar kaca hanya bergerak sebagai bayangan yang tidak lagi memiliki makna yang bisa ia pegang.
Beberapa kali ia berbicara kepada sopir, menyebutkan arah, memastikan jalan yang diambil tidak memutar terlalu jauh, dan sesekali mengulang nama tempat dengan nada yang datar, seperti seseorang yang berusaha menjaga sesuatu tetap berada dalam kendali yang tersisa. Lintang mendengar suara itu, namun tidak mengikutinya sebagai percakapan; kata-kata itu lewat begitu saja, tidak berhenti cukup lama untuk menjadi sesuatu yang bisa dipahami, karena di dalam dirinya hanya ada satu hal yang berdiri tanpa bergerak, tanpa berubah, dan tanpa bisa dipindahkan ke tempat lain: bahwa Arga tidak lagi berada di dunia yang sama dengan dirinya.
Kalimat itu tidak ia ucapkan, bahkan di dalam pikirannya sendiri ia tidak menyusunnya dengan kata yang lengkap, tetapi kehadirannya begitu jelas sehingga tidak membutuhkan bahasa untuk dipahami. Ia ada seperti sesuatu yang sudah selesai sebelum ia sempat mempertanyakannya, dan justru karena itu, ia tidak memiliki cara untuk menolaknya.
Ketika kendaraan memasuki kembali wilayah Jogja, langit sudah bergeser ke warna yang lebih redup, cahaya kehilangan ketegasannya, dan lampu-lampu mulai menyala satu per satu tanpa ada kaitan dengan apa yang baru saja terjadi di luar kota itu. Gang kecil menuju rumah ibunya tampak sama seperti pagi tadi, bahkan suara-suara yang terdengar, orang berbicara, motor lewat, pintu dibuka dan ditutup, tidak berubah sedikit pun, seolah hidup di tempat itu tidak pernah membutuhkan penjelasan untuk terus berjalan.
Pintu rumah dibuka, dan Lintang melangkah masuk dengan tubuh yang masih bergerak sebagaimana mestinya, meskipun di dalam dirinya tidak ada lagi sesuatu yang bisa disebut sebagai kelanjutan dari hari yang sama. Rumah itu menyambutnya dengan cara yang tidak berubah, ruang tengah, meja, kursi, jendela yang sedikit terbuka dan justru karena semuanya tetap di tempatnya, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya: bahwa keutuhan yang tampak itu tidak lagi memiliki pusat.
Ryan berada di sana, duduk di tempat yang sama seperti ketika mereka pergi. Pensil masih ada di tangannya, kertas masih terbuka di depannya, dan ia menoleh ketika pintu dibuka dengan gerakan yang tidak tergesa, seperti seseorang yang sudah menunggu tetapi tidak tahu apa yang akan datang.
Namun yang ia cari tidak ikut masuk bersama ibunya.
Matanya bergerak melewati Lintang, menuju ruang di belakang, seolah seseorang yang ia kenal akan muncul beberapa detik kemudian, menyusul dari tempat yang tidak terlihat.
“Papa?” tanyanya.