BAB 43
YANG TIDAK SEMPAT DISELESAIKAN
Hari-hari setelah itu tidak datang sebagai sesuatu yang baru, melainkan sebagai kelanjutan yang terasa lebih panjang dari biasanya, seolah waktu kehilangan cara lamanya untuk bergerak dari pagi ke malam tanpa membawa beban yang tersisa dari hari sebelumnya. Rumah itu tetap berjalan dengan ritme yang bisa dikenali: Lintang bangun lebih awal, dapur kembali hidup dengan suara air dan piring, Ryan dibantu bangun dengan kesabaran yang tidak pernah berubah bentuk, namun di antara semua itu, ada sesuatu yang tidak lagi berada di tempatnya, sesuatu yang tidak terlihat tetapi memengaruhi setiap gerakan dengan cara yang tidak bisa diabaikan.
Arga tidak ada.
Kalimat itu tidak pernah mereka ucapkan secara langsung di dalam rumah, tetapi ia hadir dalam setiap jeda, dalam setiap ruang yang tidak lagi diisi, dalam setiap kebiasaan kecil yang kehilangan tujuannya tanpa pernah benar-benar dihentikan. Kursi di ruang tengah tetap ada, meja tetap berada di posisi yang sama, bahkan cangkir yang biasa digunakan Arga masih disimpan di tempatnya, tetapi semuanya kini menjadi sesuatu yang tidak lagi berfungsi seperti sebelumnya.
Lintang tidak mengubah banyak hal.
Ia tetap menjalani hari seperti biasa, bukan karena ia tidak merasakan kehilangan, melainkan karena ia memahami bahwa jika ia mengubah terlalu banyak sekaligus, sesuatu di dalam dirinya bisa runtuh dengan cara yang tidak bisa ia kendalikan. Ia masih menyiapkan sarapan dengan urutan yang sama, masih membantu Ryan dengan gerakan yang sudah ia hafal tanpa perlu dipikirkan, masih berbicara seperlunya dengan ibunya tentang hal-hal yang praktis. Dari luar, tidak ada yang tampak berbeda secara mencolok.
Namun di dalam dirinya, setiap hal kini memiliki lapisan lain.
Setiap suara membawa gema. Setiap keheningan menjadi lebih padat. Ryan juga tidak banyak berubah dari luar. Ia masih menggambar. Masih berbicara dengan cara yang sama. Masih menjalani terapi dengan usaha yang tidak pernah berkurang.
Namun ada sesuatu dalam cara ia berhenti lebih lama sebelum berbicara, dalam cara ia melihat ke arah pintu sesekali tanpa benar-benar berharap, dalam cara ia menyimpan pensilnya dengan lebih hati-hati daripada sebelumnya.
Suatu sore, ketika cahaya mulai turun perlahan dan rumah kembali sunyi setelah hari yang panjang, Ryan meminta sesuatu yang tidak ia minta sebelumnya.
“Ma,” katanya pelan.
Lintang yang sedang melipat pakaian menoleh.
“Iya?”
Ryan menunjuk ke arah tas Arga yang diletakkan di sudut ruang.