BAB 44
DUNIA YANG DATANG TERLAMBAT
Beberapa minggu setelah rumah itu belajar hidup dengan kehilangan yang tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan sampai selesai, dunia di luar mulai bergerak dengan cara yang hampir terasa kejam karena keteraturannya. Buku yang lahir dari tangan Arga, tetapi beredar dengan nama orang lain, tidak berhenti pada pujian-pujian awal yang biasanya cepat lewat bersama gelombang pembaca yang selalu mencari sesuatu yang baru. Ia justru tumbuh, pelan tetapi pasti, menembus lingkaran-lingkaran yang lebih luas, dibicarakan oleh orang-orang yang tidak saling mengenal, disebut di media, diulas dengan nada serius, dipuji karena “kedalaman batin” dan “kejujuran emosional” seolah-olah dunia akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini mereka cari, padahal ketika sesuatu itu benar-benar ditulis, penulis yang sesungguhnya sedang duduk sendirian di ruang sempit, menata luka orang lain dan lukanya sendiri menjadi kalimat-kalimat yang tak pernah ia yakin akan kembali kepadanya.
Lintang tidak mengikuti semua itu dengan sengaja, tetapi kabar punya caranya sendiri untuk sampai ke rumah-rumah kecil yang tidak pernah memintanya. Orang-orang mulai mengirim tautan. Nomor-nomor yang dulu tidak aktif mendadak muncul lagi. Bahkan beberapa orang yang nyaris tidak pernah bertanya kabar selama Arga masih hidup kini mengirim pesan dengan nada yang terdengar seperti penyesalan yang terlambat. Sebagian dari mereka tidak tahu kepada siapa sebenarnya mereka sedang berbicara ketika menulis, “Mas Arga dulu memang dalam ya orangnya,” atau “Saya baru sadar setelah baca lagi,” atau kalimat-kalimat lain yang mencoba menjahit makna ke dalam sesuatu yang semasa hidup hampir tidak mereka beri ruang.
Lintang membaca semua itu dengan cara yang sama seperti ia membaca banyak hal lain: tanpa tergesa, tanpa membiarkan satu pun kalimat menguasai dirinya lebih dari yang diperlukan. Ia tidak marah. Ia juga tidak merasa harus membela siapa pun. Dunia, pikirnya, selalu datang setelah segalanya selesai. Ia memberi arti ketika orang-orang yang paling membutuhkan arti itu sudah kehabisan tenaga untuk memintanya.
Suatu siang, ketika Ryan sedang beristirahat dan rumah jatuh ke dalam keheningan yang tipis, telepon dari Rizal datang. Nama itu muncul di layar dengan beban yang berbeda dari sebelumnya. Dulu, suara laki-laki itu selalu membawa kecepatan, dorongan, janji proyek, atau sesuatu yang bergerak ke arah masa depan. Kini, setelah semua yang terjadi, namanya terasa seperti sisa dari sebuah dunia yang tidak sepenuhnya mati, tetapi juga tidak lagi sama.
Lintang mengangkat setelah beberapa detik, membiarkan keheningan di ujung sana hidup lebih dulu.
“Mbak Lin,” kata Rizal akhirnya, dan hanya dari cara ia menyebut nama itu, Lintang tahu bahwa ada sesuatu yang tidak akan datang sebagai urusan biasa.
“Iya.”
“Aku mau ke Jogja. Boleh?”
Lintang melihat ke arah kamar Ryan yang pintunya setengah terbuka, lalu ke buku catatan kecil milik Arga yang sejak beberapa hari terakhir sering ia letakkan di meja dekatnya. “Ada apa?”
Rizal tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pelan, dan Lintang membayangkan laki-laki itu berdiri di tempat lain, mungkin memandangi sesuatu yang terlalu terlambat ia pahami.
“Filmnya jalan,” katanya. “Dan bukunya… makin besar dari yang kita kira.”
Lintang diam.
Ia tidak bertanya, lalu? Ia membiarkan Rizal sendiri mencari jalan menuju inti yang sebenarnya.
“Aku mau ngobrol soal naskah lain yang ditinggal Arga,” lanjut Rizal akhirnya. “Yang di laptop. Yang… mungkin lebih penting dari semuanya.”