Cinta KeluArga

agus herman susanto
Chapter #45

YANG MULAI DILANJUTKAN

BAB 45

YANG MULAI DILANJUTKAN

 

 

Hari-hari setelah kedatangan Rizal tidak membawa perubahan yang langsung terlihat, namun ada sesuatu yang perlahan bergeser di dalam rumah itu, seperti arah angin yang tidak bisa dilihat tetapi terasa pada benda-benda kecil yang mulai bergerak tanpa suara. Lintang tetap menjalani rutinitasnya dengan ketelitian yang sama, seolah setiap tindakan yang dilakukan dengan urutan yang tepat dapat menjaga dunia tetap berada dalam batas yang masih bisa ia kendalikan, sementara di dalam dirinya sendiri, ia menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya ia beri nama, bukan lagi sekadar kehilangan, melainkan sesuatu yang kini meminta untuk dipahami dengan cara yang berbeda.

Naskah Arga tidak ia sentuh setiap waktu. Ia tidak membacanya dengan tergesa, tidak juga mencoba menamatkannya dalam satu duduk seperti seseorang yang ingin segera sampai ke ujung. Ia mendekatinya seperti ia mendekati banyak hal lain dalam hidupnya: sedikit demi sedikit, memberi ruang bagi setiap kalimat untuk tinggal sebelum ia berani melangkah ke berikutnya. Namun tanpa ia rencanakan, yang paling sering meminta naskah itu bukan dirinya.

Ryan.

Anak itu mulai menanyakan hal yang sama hampir setiap sore, dengan cara yang tidak memaksa, tetapi tidak juga hilang begitu saja.

“Lanjut yang kemarin?”

Lintang sering kali sedang mengerjakan sesuatu ketika pertanyaan itu datang, melipat pakaian, menyiapkan air, atau sekadar duduk memandangi sesuatu yang tidak benar-benar ia lihat, setiap kali  ia berhenti, bukan karena ia merasa harus, tetapi karena ia tahu bahwa apa yang diminta Ryan bukan sekadar cerita.

Ia mengambil naskah itu. Duduk di dekat Ryan. Membuka halaman yang terakhir mereka baca. Lalu mulai lagi.

Suara Lintang tidak berubah. Ia tidak membuatnya lebih dramatis, tidak juga memperhalus bagian-bagian yang terasa terlalu dekat dengan kehidupan mereka sendiri. Ia membaca sebagaimana adanya, dan justru karena itu, Ryan mendengarkan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi hanya mengikuti alur cerita, tetapi seperti seseorang yang sedang mencoba menangkap sesuatu yang lebih dalam dari kata-kata itu sendiri.

Suatu sore, ketika Lintang berhenti di sebuah bagian yang terputus di tengah kalimat, sebuah kebiasaan Arga yang masih terasa bahkan di dalam naskah yang paling personal, Ryan tidak langsung meminta dilanjutkan seperti biasanya. Ia menatap halaman itu cukup lama, lalu berkata pelan,

“Kenapa papanya berhenti di sini?”

Lihat selengkapnya