BAB 46
CINTA KELU ARGA
Tidak ada satu hari tertentu yang bisa disebut sebagai awal dari perubahan itu, sebagaimana tidak ada satu peristiwa pun yang benar-benar menandai kapan sebuah luka berhenti menjadi sesuatu yang hanya menyakitkan, lalu perlahan berubah menjadi sesuatu yang bisa ditinggali. Waktu tidak bekerja dengan cara yang bisa diukur oleh kalender di dinding rumah itu; ia bergerak melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang tetap dilakukan, melalui suara yang tetap ada meskipun maknanya bergeser, melalui napas yang tetap teratur meskipun dunia yang dihirup tidak lagi sama.
Naskah itu, yang mula-mula hanya dibuka sebagai sesuatu yang ditinggalkan, kini telah berubah bentuk menjadi sesuatu yang dijalani. Lintang tidak lagi sekadar membaca, dan Ryan tidak lagi hanya mendengarkan. Di antara mereka, tanpa pernah diumumkan sebagai keputusan besar, telah terbentuk cara baru untuk bersama: satu berbicara, satu menuliskan, dan di antara keduanya, sesuatu yang dulu terhenti kini bergerak kembali dengan arah yang tidak sepenuhnya sama, tetapi cukup untuk disebut sebagai kelanjutan.
Kadang-kadang, ketika Lintang membaca ulang bagian yang ditulis Arga, ia masih merasakan sesuatu yang tidak pernah benar-benar berkurang, sejenis jarak yang tidak bisa dijembatani oleh waktu, kesadaran bahwa ada bagian dari hidup yang telah selesai tanpa sempat diberi penutup yang layak. Namun di saat yang lain, ketika ia menuliskan kalimat yang datang dari Ryan, ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda: bahwa apa yang ditinggalkan tidak selalu meminta untuk dikembalikan seperti semula, melainkan untuk diteruskan dengan cara yang mungkin tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Suatu sore, ketika cahaya masuk dengan lembut dari jendela dan Ryan tampak lebih tenang dari biasanya setelah terapi yang melelahkan, ia berkata tanpa melihat ke arah Lintang,
“Ma.”
Lintang yang sedang menulis berhenti.
“Iya?”
Ryan tidak langsung menjawab. Ia memandang ke depan, ke ruang yang tidak berisi apa-apa selain cahaya dan bayangan yang bergerak pelan.
“Kalau nanti bukunya jadi,” katanya akhirnya, “papanya tahu?”
Lintang memegang pena itu sedikit lebih erat, lalu meletakkannya di atas kertas sebelum menjawab. Ia tidak ingin kalimatnya tercampur dengan sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami.
“Tahu,” katanya pelan.
Ryan menoleh.
“Dari mana?”