EPILOG
YANG TERUS DITULISKAN
Ruangan itu tidak besar, tetapi cukup untuk menampung sesuatu yang tidak lagi membutuhkan banyak tempat, sebuah meja kerja yang sederhana, laptop yang selalu menyala sejak pagi tanpa pernah benar-benar dimatikan, tumpukan buku dengan nama yang sama tercetak di sampulnya, nama yang dulu hanya dipanggil pelan di dalam rumah, kini dikenal oleh orang-orang yang tidak pernah mengenalnya secara langsung, dan di dekat jendela yang terbuka sedikit, kursi roda yang menjadi pusat dari semua yang bergerak di dalam ruang itu tanpa harus berpindah jauh.
Ryan duduk di sana, tubuhnya masih menyimpan keterbatasan yang tidak pernah hilang sejak kecil, tangan yang tidak sepenuhnya patuh, kaki yang tetap membutuhkan sandaran, tetapi wajahnya telah melewati banyak hal yang membuatnya tidak lagi terlihat seperti seseorang yang sedang berjuang melawan sesuatu; ia lebih tampak seperti seseorang yang telah berdamai dengan cara dunia bekerja terhadap dirinya, dan justru dari situlah sesuatu yang lain tumbuh, sesuatu yang tidak bisa dilihat hanya dari bentuk tubuh, melainkan dari cara ia memandang, dari cara ia diam, dari cara ia menunggu kalimat datang tanpa memaksanya.
Di dinding, beberapa bingkai tergantung tanpa susunan yang terlalu rapi, sampul buku yang pernah diterbitkan, beberapa penghargaan yang tidak pernah ia pajang sebagai kebanggaan melainkan hanya sebagai penanda bahwa sesuatu yang dulu dimulai dari ruang kecil itu ternyata menemukan jalannya sendiri ke luar, bahkan satu poster film yang diadaptasi dari salah satu karyanya, wajah-wajah yang diperbesar, cahaya yang dibuat dramatis, sesuatu yang tampak begitu jauh dari cara semua itu sebenarnya lahir, namun tetap menjadi bagian dari perjalanan yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Di hadapannya, seseorang duduk dengan laptop terbuka, jemari siap di atas keyboard, tidak tergesa, tidak juga menunggu dengan gelisah, karena ia telah cukup lama berada di sana untuk memahami bahwa kalimat tidak pernah datang dengan cara yang bisa dipercepat, bahwa ada jeda-jeda yang harus dibiarkan hidup sebelum sesuatu benar-benar menemukan bentuknya, dan di antara mereka, tidak banyak percakapan yang diperlukan untuk menjaga semua itu tetap berjalan.
“Mulai?” tanya suara itu pelan.
Ryan tidak langsung menjawab; ia melihat ke arah layar, lalu ke luar jendela, di mana cahaya sore jatuh dengan lembut pada jalan yang tidak pernah benar-benar sepi, orang-orang lewat dengan urusan masing-masing, kendaraan melintas tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam ruangan itu, dan di dalam dirinya sendiri, sesuatu bergerak perlahan, bukan sebagai ingatan yang utuh, melainkan sebagai rasa yang telah lama tinggal dan kini tidak lagi perlu dicari.
Ia mengangguk.