Namaku Kahfi. Aku bekerja di salah satu perusahaan asuransi di Jakarta. Sebagai seorang frontliner, tugas utamaku adalah melayani—melayani nasabah dan juga mitra kerja yang biasa kami sebut sebagai agent.
Bagi yang belum tahu, agent adalah dinas luar. Mereka karyawan lapangan yang bertugas menawarkan produk asuransi ke masyarakat sekaligus melakukan penagihan premi yang jatuh tempo. Tugas mereka berat, tanggung jawabnya pun besar, karena tak jarang mereka harus membawa uang tunai nasabah untuk disetorkan ke kantor. Namun semua itu sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Mereka dijuluki tombak perusahaan dan menerima komisi yang cukup besar.
Rata-rata agent di kantorku berusia empat puluh sampai lima puluh tahun. Meski begitu, ada juga beberapa agent muda, baik pria maupun wanita. Karena sifat pekerjaan mereka freelance, mereka tidak diwajibkan datang ke kantor setiap hari.
Usiaku dua puluh tiga tahun. Aku sudah menikah selama satu tahun, meski belum dikaruniai anak. Sebagai frontliner, aku tidak bekerja sendirian. Aku memiliki partner wanita bernama Puput.
Puput cantik, dengan tahi lalat cukup besar di bawah matanya—mengingatkanku pada Ita Purnamasari, artis idolaku. Usianya dua puluh tahun dan baru lulus kuliah. Aku menganggapnya seperti adikku sendiri. Meski lebih muda, pemikirannya jauh lebih dewasa dibanding gadis seusianya. Mungkin karena ibunya meninggal saat ia berusia lima belas tahun, membuat karakter keibuan muncul lebih cepat. Atau mungkin karena ia anak sulung dari dua bersaudara, sehingga ia terbiasa memikul tanggung jawab sebelum waktunya.
Puput pun menganggapku seperti seorang kakak. Bisa jadi karena ia terbiasa butuh figur yang melindungi dan mengayomi. Di matanya, mungkin aku sosok yang tepat. Ia sering bercerita tentang pacarnya atau hal-hal sepele tentang dunia lelaki. Kami saling menjaga satu sama lain.
Puput penakut dan sedikit ceroboh. Jika ia melakukan kesalahan, aku orang pertama yang berdiri di depannya. Meski sering kali aku yang terkena imbasnya, aku tak pernah keberatan. Sebaliknya, Puput banyak berjasa untukku. Aku mudah terpancing emosi dan tidak sabaran, tetapi ketika amarahku mulai naik, hanya Puput yang mampu menenangkanku.
Tidak ada cinta di antara kami. Puput mengenal istriku. Aku mengenal pacarnya. Tidak ada ruang untuk salah paham.
Seperti biasa, hari kerja dimulai dengan doa bersama dan briefing pagi. Jam kerja kami dimulai pukul delapan. Karena rumahku cukup jauh, aku harus berangkat pukul enam agar tak terlambat. Berbeda dengan Puput yang rumahnya hanya sepuluh menit berjalan kaki dari kantor.
Selesai briefing, aku dipanggil secara khusus ke ruangan bosku, Pak John. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa aku membuat kesalahan kemarin?
Pak John mempersilahkanku duduk.
“Santai sajalah. Tak usah tegang kali kau,” katanya dengan logat Medan yang kental.
Sejujurnya aku sedikit takut pada beliau. Bukan karena dia galak, melainkan karena ketegasannya soal pekerjaan. Ditambah pengalaman buruk masa kecil dengan orang Medan, aku selalu merasa canggung saat bicara dengannya.
“Tolong kau buatkan slide presentasi tentang Pentingnya Berasuransi. Pesankan juga nasi box untuk tiga puluh orang. Kita adakan seminar jam sebelas di ruang rapat. Aku undang ibu-ibu PKK dari kelurahan. Jam sepuluh kau lapor ke aku, ya. Aku mau lihat dulu slidenya.”
“Baik, Pak,” jawabku singkat, lalu segera keluar.
Semua tugas berhasil kuselesaikan tepat waktu. Saat seminar berlangsung, tugasku mengoperasikan laptop sementara Pak John menjelaskan materi. Setelah acara selesai, aku mengumpulkan data peserta yang berminat menjadi agent.