Cinta Lintas Usia

Arif Ramadhan
Chapter #3

Lorong Cinta

Selasa, 24 Februari

Aku tak akan pernah lupa hari itu, hari yang terasa bersejarah bagiku. Suasana pagi itu cukup mendung; matahari seolah enggan menampakkan diri. Sepertinya hari ini akan hujan, gumamku dalam hati.

Benar saja, pukul 11.30 hujan mulai turun dengan deras, padahal waktu istirahat sudah hampir tiba. Aku tidak mungkin keluar kantor dalam kondisi seperti itu. Namun, ada hal mengejutkan terjadi hari itu. Aku menerima sebuah pesan singkat dari Bu Tamara yang membuatku terkejut.

Kantorku memang dekat dengan pusat perbelanjaan, hanya sekitar lima menit jika berjalan kaki. Namun karena hujan deras, ia memintaku menjemputnya. Tentu saja aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Dengan penuh semangat, aku langsung memamerkan pesan itu kepada Puput, lalu mencari payung. Sayangnya, hari itu kantor sedang sepi dan tidak ada agen yang membawa payung. Seketika aku merasa lemas. Kesempatan untuk sepayung berdua dengan Bu Tamara pun lenyap.

Aku lega karena ia tidak marah, tetapi aku kecewa pada diriku sendiri karena gagal memanfaatkan kesempatan untuk lebih dekat dengannya. Akhirnya Bu Tamara datang ke kantor setelah hujan berhenti. Entah mengapa, aku sangat senang melihat kedatangannya.

Hari itu ia tampak lebih cantik dengan paduan jilbab merah dan baju bermotif bunga berwarna senada. Mungkin karena aku menyukai warna merah, sehingga semuanya tampak sangat cocok jika dikenakan oleh Bu Tamara.

Pukul 15.00 terjadi gangguan sistem pada aplikasi kantor, sehingga aku tidak bisa melanjutkan pekerjaanku. Pada saat bersamaan, hujan kembali turun dengan deras dan mengguyur area sekitar kantor. Beberapa agen pun tidak bisa pulang.

Hari itu yang datang kebanyakan agen senior, sehingga mereka tidak terlalu dekat dengan Bu Tamara. Aku melihatnya duduk sendirian di dekat lorong pintu keluar. Aku ingin mendekatinya, tetapi harus punya alasan yang masuk akal.

Aku teringat Aji, temanku yang perokok. Aku sendiri bukan perokok aktif; aku hanya merokok pada saat-saat tertentu, seperti ketika sedang stres atau banyak tekanan. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku.

“Aji, minta rokok, ya,” kataku sambil menghampiri mejanya.

“Ambil saja, itu koreknya,” jawabnya cuek sambil menunjuk ke arah meja. Hubungan kami memang biasa saja, tidak sedekat aku dengan Puput.

Aku segera menuju lorong tempat biasa Aji dan aku merokok. Tiba-tiba Bu Tamara memanggilku.

“Mas, ke sini,” katanya sambil melambaikan tangan.

Gayung bersambut. Aku malah dipanggil lebih dulu olehnya.

“Temani aku dong, aku sendirian. Aku enggak enak kalau gabung di sana. Isinya senior semua,” katanya sambil menunjuk ke salah satu ruangan.

“Mas Kahfi mau ke mana?” tanyanya lagi. “Sistem masih error, ya?”

“Iya, masih error. Makanya aku mau merokok dulu,” jawabku.

Lihat selengkapnya