Cinta Lintas Usia

Arif Ramadhan
Chapter #6

Ujian Pertama

Setiap pagi aku selalu mengirimkan satu lagu kepada Bu Tamara. Itu sudah menjadi rutinitas yang kulakukan. Sempat terlintas di pikiranku untuk mengirim lagu Yovie & Nuno berjudul Sempat Memiliki, tetapi niat itu kuurungkan. Lagu itu memang berkesan, tetapi bernuansa perpisahan. Mungkin terdengar egois, tetapi saat itu aku belum siap berpisah dari Bu Tamara. Aku sudah terlanjur merasa nyaman dengan “pertemanan” ini. Akhirnya aku memilih lagu lain untuk kukirimkan kepadanya.

Hari-hariku tetap berjalan normal. Aku bekerja seperti biasa dan tetap berkomunikasi dengan Bu Tamara. Sempat timbul rasa cemas dalam diriku, khawatir pesan-pesanku terbaca oleh suaminya. Namun Bu Tamara selalu mengatakan bahwa ponsel adalah privasi. Aku sedikit tenang, meskipun tetap harus waspada.

Menjelang akhir bulan, aku tertimpa musibah. Ibuku sakit cukup parah hingga harus dirawat di rumah sakit. Aku pun izin tidak masuk kantor selama beberapa hari. Kabar itu rupanya sampai juga ke telinga Bu Tamara. Jujur saja, saat itu aku sedikit takut jika ia tiba-tiba mengirim pesan dengan nada yang aneh, tetapi itu tidak terjadi. Ia sudah cukup lihai dalam urusan ini. Ia hanya menulis di status BBM miliknya, “Aku tahu kamu pasti sedang sibuk. Jaga kesehatan.” Aku paham, itu pesan untukku yang tak bisa ia kirimkan secara langsung.

Saat itu aku benar-benar sibuk, sepenuhnya fokus pada ibuku yang sakit. Menjelang malam, sepertinya Bu Tamara menunggu pesanku. Aku pun mencari celah. Aku izin untuk salat karena istriku sedang berhalangan dan tetap berada di ruang perawatan menjaga ibuku. Di sanalah aku memberanikan diri mengirim pesan.

“Bu, ada apa?” tanyaku.

“Tidak apa-apa, Mas. Jaga kesehatan, ya. Kamu juga harus tetap fit,” balasnya.

“Aku tidak bisa lama-lama. Aku cuma izin salat. Ibu kok perhatian sekali? Aku jadi ge-er,” godaku.

“Jangan ge-er. Aku memang perhatian sama semua orang. Semoga orang tuamu cepat sembuh,” jawabnya.

“Terima kasih, Bu. Aku kembali ke ruangan dulu, ya. Tidak perlu dibalas,” tulisku sebagai tanda.

Aku kembali ke kamar ibuku.

Dalam hati aku berpikir, Bu Tamara adalah sosok yang gengsinya besar. Ia perhatian, baik, dan selalu ingin tahu keadaanku, tetapi ia tidak pernah mengakui memiliki perasaan yang sama. Aku mencoba memakluminya. Mungkin memang masih ada Pak Hasan, secret admirer yang lebih dulu hadir sebelum aku.

Malam itu aku dilanda kegelisahan, seakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Istriku sudah tertidur pulas, kelelahan setelah seharian menjaga ibuku. Ibuku pun tertidur karena pengaruh obat. Jam menunjukkan pukul 20.30. Suasana rumah sakit begitu sunyi. Aku menemukan sebuah buku komik di atas meja, kemungkinan milik adikku yang tertinggal. Judulnya Salad Days, kisah romansa remaja.

“Seru juga,” gumamku.

Ada sebuah kutipan yang menarik perhatianku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengirimkannya kepada Bu Tamara:

“Jika kita mencintai seseorang dengan tulus, cinta itu tak akan luntur meski tak terbalas.”

“Ada kalanya seseorang tak menyadari bahwa ia sedang dicintai, bahwa ada cinta di depannya yang tak menuntut apa-apa.”

Lihat selengkapnya