“Awal bulan, kembali ke awal. Setelah tutup buku, mari kita awali bulan baru dengan penuh semangat. Semoga bulan ini lebih baik dari bulan sebelumnya!”Begitulah wejangan Pak John pagi itu.
“Bulan lalu memang sangat berat untukku. Semoga bulan ini tidak ada ujian yang berat lagi,” gumamku dalam hati.
Bulan ini Bu Tamara tidak akan ke kantor karena ulahku. Semoga suaminya melunak dan dia diizinkan untuk bekerja kembali. Aku sempat berpikir bahwa ujian telah berlalu, tetapi aku salah. Ujian akan dan terus datang dalam kehidupan.
Pagi itu, Puput mengucapkan salam perpisahan. Hari itu adalah hari terakhir dia menjadi rekan kerjaku. Dia akan dimutasi.
Jujur, aku sangat sedih karena kehilangan sosok teman, sahabat, sekaligus adik di kantorku. Dia mendapat kabar tersebut ketika aku sedang merawat ibuku. Baginya, itu bukan waktu yang tepat untuk bercerita, sehingga dia baru menyampaikannya setelah kami selesai briefing.
“Mas, aku enggak bisa ngomong apa-apa. Aku juga enggak bisa kasih apa-apa. Terima kasih ya, Mas, sudah membimbing aku. Aku juga selalu bikin kamu repot karena kamu terus memback-up aku,” kata Puput dengan mata berkaca-kaca.
“Aku pun sama, Put. Terima kasih karena selalu ada buat aku. Kamu mau jadi tempat cerita aku, dan kamu sudah aku anggap sebagai adik. Maaf kalau selama ini aku mendidik kamu terlalu keras,” kataku sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
“Apapun itu, kamu lakuin demi yang terbaik buat aku,” tangisnya pecah. Dia langsung memelukku, karena kata-kata tidak mampu mengungkapkan kesedihan di hatinya.
Rekan-rekan lain pun ikut terharu menyaksikan perpisahan kami. Aku dan Puput memang baru satu tahun bekerja sama, tetapi kami tidak pernah bertengkar. Banyak yang mengatakan kami cocok menjadi pasangan. Kami hanya menanggapinya dengan santai karena aku menganggap Puput sebagai adikku, begitu pula sebaliknya.
Banyak kenangan yang sudah kami lewati bersama—susah dan senang kami lalui berdampingan. Bahkan, beberapa rahasia pribadiku juga dia ketahui.
Setelah tangisannya mereda, kami kembali bekerja seperti biasa. Aku berusaha menciptakan suasana normal. Hingga akhirnya, jam pulang pun tiba.
“Mas, aku pamit ya. Besok ada anak PKL yang bantu kamu. Ada tiga orang dari SMKN 01,” kata Puput.
“Loh, kok baru bilang? Gimana murid-muridnya? Kelihatan nakal enggak?” tanyaku.
“Enggak dong, Mas. Aku kan alumni dari sana, jadi aku tahu tipikal muridnya,” jawab Puput.
“Oh, begitu. Mudah-mudahan bisa bantu pekerjaanku,” kataku.
“Tapi PKL-nya cuma satu bulan, lho,” jelasnya.
“Biasanya tiga bulan. Kok bisa?” tanyaku lagi.
“Kamu kenal Mbak Desi enggak? Katanya dia yang merekomendasikan kantor ini untuk anak PKL itu,” kata Puput.
“Aku tahu dan kenal, tapi enggak sedekat aku dengan Bu Tamara,” jawabku sambil tertawa kecil.
Sebagai informasi, di kantorku memang ada salah satu agen muda yang cukup cantik. Usianya lima tahun lebih tua dariku dan sudah memiliki dua anak yang masih kecil. Namanya Dessynta, seorang guru di SMKN 01. Karena kesibukannya, dia jarang datang ke kantor.
“Oh iya, Mas. Gimana kamu sama Bu Tamara?” tanya Puput.
Aku pun menceritakan kejadian yang kualami kemarin. Puput menyarankanku untuk mengakhiri perselingkuhanku dengan Bu Tamara. Setelah perbincangan kami selesai, kami pun bergegas pulang.
Hari berganti.
Pagi yang cerah, tetapi tidak dengan hatiku. Aku masih merasa murung. Untuk sementara waktu, aku menjadi satu-satunya frontliner. Hari itu, aku kembali dibantu oleh anak-anak PKL.
Aku sedikit trauma dengan anak PKL. Pengalaman terakhir tidak menyenangkan—mereka nakal, sulit diatur, dan sama sekali tidak membantu pekerjaan. Semoga kali ini berbeda, seperti kata Puput.