Setelah sampai di rumah, aku merasa ada yang tidak beres dengan kondisi tubuhku. Badanku terasa sangat lemas, tetapi hal itu tidak kukatakan kepada istriku. Esok paginya, kondisiku masih belum sepenuhnya normal, namun aku mencoba untuk tidak menunjukkan apa pun kepada istriku.
Sesampainya di kantor, aku bergegas sarapan. Kupikir tubuhku akan terasa lebih segar setelah terisi makanan. Namun, aku salah. Kondisiku justru semakin memburuk. Aku memilih tidur di ruang belakang karena tempatnya sepi dan terdapat sofa, sehingga aku bisa mencoba memulihkan kondisi dengan beristirahat sejenak. Mungkin aku terlalu lelah karena hampir tidak pernah beristirahat, ditambah kejadian-kejadian sebelumnya yang benar-benar membuatku stres—termasuk tekanan dari para agen, juga Bu Tamara.
Tanpa terasa, aku tertidur sekitar tiga jam. Ketika terbangun dan mencoba menuju ruang depan, kulihat Toni dan Aji sedang melayani nasabah. Langkahku terhenti ketika Pak John memperhatikanku. Wajahku terlihat sangat pucat, dan suhu tubuhku terasa panas. Aku diminta tetap berada di ruang belakang karena khawatir aku bisa pingsan.
Aku kembali berbaring di sofa. Entah mengapa, seluruh tubuhku terasa sangat sakit. Ini pengalaman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Biasanya ketika demam, tubuhku hanya menggigil kedinginan. Kali ini berbeda—seluruh tubuhku terasa nyeri dan sulit digerakkan.
Waktu menunjukkan pukul 12.00 siang. Tanpa sadar, aku tertidur kembali. Saat terbangun, kulihat beberapa orang mengerumuniku. Aku berusaha bangun dengan sisa tenaga yang kumiliki, tetapi hanya mampu duduk lemas.
“Suhu tubuhnya sangat tinggi, Pak. Sepertinya ini bukan sakit biasa. Sebaiknya dibawa ke rumah sakit terdekat. Kita khawatir kondisinya memburuk,” kudengar suara salah satu dari mereka.
“Bawa dia ke rumah sakit!” terdengar suara tegas Pak John.
“Tidak usah, Pak. Nanti juga pulih sendiri,” kataku sambil berusaha berdiri perlahan.
Setelah aku mampu duduk, orang-orang mulai menjauh.
Tanpa kusadari, Bu Tamara ternyata ada di sana. Wajahnya tampak sangat khawatir melihat kondisiku. Ia sempat menyentuh keningku dan membuatkan teh hangat.
“Terima kasih, Bu Tamara,” kataku sambil tersenyum lemah.