Cinta Lintas Usia

Arif Ramadhan
Chapter #12

Acara Perpisahan Pak John

Aku kembali masuk kerja setelah tidak masuk selama tujuh hari kerja. Hampir dua minggu aku absen. Sudah banyak hal yang terlewat, dan pekerjaan pun semakin menumpuk. Namun ke depannya aku tidak terlalu kewalahan karena kini ada Toni, rekan kerja baruku.

Beberapa waktu lalu, ketika aku izin karena ibuku sakit, manajemen memutuskan untuk memindahkan Puput ke kantor cabang lain. Kini aku mendapat kabar bahwa Pak John juga akan dimutasi. Keputusan itu diambil karena beliau berhasil membawa kantor cabang kami menjadi salah satu yang terbaik. Cukup sedih harus kembali berpisah dengan sosok yang sangat baik kepada kami.

Tanpa berpikir panjang, para agen sepakat mengadakan acara perpisahan sekaligus konsolidasi. Acara itu direncanakan di Anyer. Biasanya aku tidak terlibat sebagai panitia, hanya berpartisipasi seperlunya. Namun tiba-tiba aku menerima BBM dari Mbak Desi yang membuatku tertarik ikut menjadi panitia.

Mbak Desi:

“Siang, Mas. Apa benar akan diadakan konsolidasi untuk perpisahan Pak John di Anyer?”

Aku:

“Iya, Mbak. Sudah dapat info?”

Mbak Desi:

“Sudah, Mas. Kalau untuk games di sana sudah ada belum? Kalau belum, aku yang urus.”

Aku:

“Sepertinya belum, Mbak. Nanti aku sampaikan ke Bu Kadek, ya. Panitia sifatnya sukarela. Mbak bersedia?”

Mbak Desi:

“Siap, Mas. Sore aku ke kantor. Kita bahas lomba dan permainannya.”

Entah kenapa aku jadi tertarik menjadi panitia. Tanpa pikir panjang, aku memutuskan membantu Mbak Desi mengurus permainan.

Panitia dadakan pun terbentuk tanpa rapat resmi. Semua seolah sudah terkoordinasi. Bu Kadek mengurus akomodasi, Bu Sari mengurus penginapan, Bu Fatimah menangani konsumsi, Pak Suhandi menyusun jadwal acara, sedangkan aku dan Mbak Desi mengurus lomba serta acara tukar kado. Bu Tamara tidak terlibat dalam kepanitiaan ini.

Hubunganku dengan Mbak Desi menjadi lebih intens, meski komunikasi kami tetap sebatas urusan pekerjaan. Ini pertama kalinya aku menjadi panitia resmi dalam acara kantor. Aku pun merasakan betapa beratnya tanggung jawab agar semua berjalan lancar. Banyak kendala muncul, sementara hari keberangkatan semakin dekat. Tidak semua keinginan bisa terpenuhi, tetapi Mbak Desi selalu punya alternatif. Pengalamannya sebagai guru pramuka sangat membantuku.

Menjelang hari keberangkatan, Mbak Desi datang sore hari untuk mengecek perlengkapan lomba. Saat mengantarnya ke area parkir, aku sempat bertanya.

Lihat selengkapnya